BLOG
COOL SHARING SUPPLEMENT September #2 – Hidup dalam Disiplin Rohani

ON 2 September 2016, BY GBI Jl. Gatot Subroto - POSTED IN: Artikel

Latihlah dirimu beribadah – 1 Timotius 4:7b (TB)
Hendaklah kaulatih dirimu untuk kehidupan yang beribadat – 1 Timotius 4:7b (BIS)
Discipline yourself for the purpose of godliness – 1 Timothy 4:7b (NASB)

Hari-hari ini berkembang pengajaran yang menyebutkan bahwa untuk menjadi satu (union) dengan TUHAN, manusia tidak memerlukan usaha apapun juga (effortless spirituality). Kesatuan kita dengan TUHAN terjadi secara instan saat kita percaya kepada-Nya. Doa bisa dilakukan tanpa usaha, bahkan untuk hidup berserah pada TUHAN pun bisa dilakukan tanpa usaha. Kehidupan rohani kita di dalam TUHAN akan menjadi tanpa rintangan dan tanpa perlu upaya. Pandangan ini jelas salah.

Rintangan yang utama yang dihadapi manusia adalah kedagingan, yang tidak otomatis berubah begitu saja saat kita lahir baru. Kedagingan selalu berupaya untuk membuat kita jatuh dalam dosa. Walaupun kita sudah mengalami kelahiran baru dan menerima keselamatan, tetapi kita masih bisa jatuh dalam dosa (1 Yohanes 1:10). Untuk itu ketika seseorang sudah diselamatkan, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menjaga agar hidupnya semakin kudus (Ibrani 12:14), untuk itu diperlukan disiplin rohani . Bagian lain dari Firman Tuhan mengatakan:
“Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.”Titus 2:11-13

Di dalam kehidupan jasmani, seseorang yang ingin berhasil dalam bidang apapun juga harus memiliki disiplin dalam kehidupan sehari-harinya. Baik itu seorang olahragawan, seniman, pengusaha, dll. Demikian juga kalau ingin berhasil dalam kehidupan rohani.

Disiplin bukanlah karakter atau sifat seseorang, tetapi tindakan praktis yang harus dilakukan secara jasmani (Roma 12:1). Walaupun hal-hal yang ingin kita hasilkan dari disiplin bersifat rohani, tetapi untuk meraihnya kita harus melakukan secara jasmani contoh: tekun bersaat teduh, masuk Menara Doa, memiliki kehidupan doa, pujian dan penyembahan, belajar firman, ber-COOL dan lain-lain. Hal ini ditekankan oleh Paulus dalam suratnya kepada Timotius; “Itulah sebabnya kita berjuang dan bekerja keras” (1 Timotius 4:10).

Jenis-Jenis Disiplin Rohani :

1. Disiplin Pengendalian Diri
Adalah ketika kita menahan diri kita dari keinginan kita agar kita dapat memiliki ruang dan waktu untuk memusatkan perhatian kita kepada Tuhan. Contohnya antara lain; berpuasa (fasting), berdiam diri (sabbatical), merendahkan diri (secrecy) dan menundukkan diri (submission).

2. Disiplin Pengembangan Diri
Adalah ketika kita membangun persekutuan dengan Allah dan sesama di dalam kasih. Contohnya antara lain; mempelajari dan merenungkan Alkitab dengan teratur, berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, persekutuan dengan sesama orang percaya, perenungan dan pelayanan.

Ada yang menganggap bahwa melakukan disiplin rohani sama dengan legalisme, dimana orang percaya dibebani dengan kewajiban mentaati aturan-aturan. Orang yang beranggapan demikian sesungguhnya orang yang malas serta tidak bertanggung jawab dengan hidupnya serta tidak menghargai kasih karunia yang telah diberikan Tuhan. Sebab, seseorang yang memiliki disiplin rohani dalam hidupnya justru akan menemukan kemerdekaan atas keduniawian, kemenangan atas dosa, damai sejahtera dalam kekudusan dan sukacita atas perkenanan Allah.

Disiplin rohani memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, namun demikian bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Mengingkari disiplin rohani berarti hidup dengan mengabaikan hukum-hukum Allah. Hidup akan menjadi liar, tidak terkendali, dan tersesat dalam neraka yang kekal.

SEMANGAT UNTUK BERSAKSI

ON 31 May 2015, BY Felicya Wijaya
POSTED IN: Renungan

YOUTH SHARING SUPPLEMENT April #2 – Forgive and Forget

ON 10 April 2016, BY GBI Jl. Gatot Subroto
POSTED IN: Artikel