BLOG
Kesaksian: Tuhan menggenapi Janji-Nya

ON 5 August 2015, BY Hanz & Amalia - POSTED IN: Kesaksisan

Kami sangat berterima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah mempercayakan kami untuk merawat anak kami yang bernama Samuel.

Saya mengalami keguguran sebanyak dua kali, yaitu tahun 2010 dan 2012. Setelah keguguran pertama maupun kedua, saya minum bermacam-macam jamu untuk kesuburan supaya cepat hamil lagi, namun tidak ada hasil. Tahun 2012 sebelum keguguran yang kedua, kami pernah mendapatkan janji Tuhan bahwa kami akan memiliki anak (lewat hamba Tuhan yang membawakan firman). Beberapa waktu kemudian, saya mendapat tawaran dari teman kantor untuk adopsi anak, saat itu kami berpikir apakah akan mengambil anak itu, kami berdoa dan kami mendapat jawaban bahwa bukan itu, dan Tuhan ingatkan akan janjiNya. Salah satu kerabat menyarankan untuk minta ke Suhu dari kepercayaan lain. Tapi saat itu kami putuskan tidak, kami hanya mau menunggu janji Tuhan. Kami mencoba memeriksakan diri ke klinik fertilitas, dokter malah menyarankan untuk inseminasi dan bayi tabung supaya cepat hamil, awalnya kami berpikir untuk mencobanya, tapi niat itu tidak kesampaian. Justru Tuhan ingatkan kami akan hasil Lab saat keguguran tahun 2012, yaitu tingginya trombosit, dimana saat itu dokter kandungan merekomendasikan pemeriksaan darah ke dokter hematologi. Kami mencari tahu dokter hematologi yang bagus dan ternyata berlokasi di RS kawasan Cikini. Dia profesor hematologi. Di sana dilakukan serangkaian pemeriksaan, dan hasilnya D-DIMER dan Fibrinogen yang cenderung tinggi. Kedua faktor ini menyebabkan kekentalan darah dan menghambat supply nutrisi ke janin. Di bulan April 2013, saya mendapat mimpi:
Ada bapak tua datang membawa bayi laki – laki dan bilang: “Tolong rawat bayi ini ya.” Dan bayi tersebut diserahkan ke saya.
Selain itu salah seorang Kakak rohani juga mendoakan dan mengatakan Tuhan akan memberikan anak tahun ini (th 2013), saat itu saya berpikir itu hanya mimpi karena saat itu muncul flek2 seperti akan mendapat menstruasi. Tapi ternyata dua minggu kemudian, saya terdeteksi positif hamil.
Saat itu saya mulai kuatir takut kejadian keguguran terulang kembali. Mulai saat itu saya tiap bulan rutin ke hematologi untuk memeriksakan kekentalan darah, dan kami tergerak untuk menumpangi tangan setiap hari dan berdoa. Saat antri di dokter hematologi, muncul kekuatiran karena pernah membaca di sharing ibu hamil yang mengalami kekentalan darah menyebutkan bahwa pengobatan lewat suntik perut setiap hari. Saat kekuatiran itu muncul, Tuhan berkata :”Jarum suntik tidak akan menyentuh perutmu”. Masuk minggu ke 27, saya ke RS di kawasan Cikini untuk kontrol darah. Waktu itu yang praktek adalah dokter pengganti. Saat periksa, D-DIMER naik di angka 1,000 an. Oleh dokter disuruh suntik Lovenox 0.6 mg. Kami sempat kaget dan beli obat itu sebanyak 15 pack untuk 30 hari. Kami kembali lagi ke RS Cikini di hari Rabu sore-nya untuk bertemu dengan dokter yang biasa menangani saya untuk memastikan.Ternyata Profesor yang menangani juga mengatakan bahwa harus disuntik dengan heparin (lebih ringan dibanding dengan Lovenox), kalau tidak akan resiko keguguran lagi dan akan mengalami pre eklamsia. Kami kaget sekali. Tetapi kami ingat janji Tuhan. Lalu kami berdoa dan kami putuskan tidak suntik dan tidak berobat hematologi lagi. Sejak itu, saya hanya minum ascardia 80 mg dan asam folat. Minggu demi minggu kami lalui hanya dengan berharap kepada mujizat Tuhan. Tuhan sangat baik, bahkan kesehatan kami sekeluarga dipelihara oleh Tuhan Yesus Kristus. Masuk minggu ke 35, dokter bilang posisi janin melintang. Saya disuruh konsumsi air putih 750 ml saat bangun tidur dan jalan pagi yang dilakukan setiap hari sampai masa bersalin. Itupun diberi waktu 2 minggu harus berada pada posisi jalan lahir. Jika tidak, maka harus melalui operasi sesar. Banyak orang mengatakan bahwa itu sudah terlambat dan tidak mungkin janin bisa ke jalan lahir, tapi saat itu kami hanya bisa berdoa dan berserah pada Tuhan Yesus.Pemeliharaan Tuhan Yesus Kristus sungguh luar biasa. Dalam waktu sepuluh hari, janin sudah berada di jalan lahir. Bulan Januari-Februari 2014, Jakarta sering hujan deras dan banjir besar. Orang tua saya dan kerabat was-was kalau saat mau lahiran waktu banjir besar , mereka meminta saya untuk sewa tempat di dekat rumah sakit bersalin atau opname lebih awal dekat2 hari perkiraan lahir. Tetapi kami putuskan tidak menyewa maupun opname lebih awal . Kami yakin bahwa Tuhan sudah mengatur cuaca juga. Masuk minggu ke 38, orang tua saya minta mempersiapkan nama perempuan. Anehnya, kami sama sekali tidak terlintas nama perempuan. Yang kami ingat hanyalah Samuel, nama yang sudah ada sebelum janin terbentuk. Tanggal 10 Feb 14 dini hari, saat kami mau tidur sekitar jam 00.30, saya terasa ingin buang air. Setelah buang air, ternyata warnanya merah. Kami tenang-tenang saja, karena 6 jam sebelumnya, kami makan buah naga merah. Setengah jam kemudian, buang air lagi dan berwarna merah. Saat kira-kira jam 2.00, tiba-tiba yang keluar seperti gumpalan dan berwarna merah. Saat itu kami sadar kalau ketuban pecah. Kami berangkat ke rumah sakit jam 02.30 dengan kondisi gerimis. Ternyata, memang digenapi, Tuhan Yesus sudah mengatur cuacanya. Saat bersalin tiba, Anak kami laki-laki, sesuai dengan penglihatan yang Tuhan Yesus berikan lewat mimpi. Tuhan juga menggenapi dengan tuntas bahwa perut saya tidak terkena jarum suntik. Tuhanpun juga menolong sejak saat lahir sampai dengan keluar dari rumah sakit dan beberapa hari setelahnya, tidak turun hujan. Sehingga Samuel dapat berjemur matahari pagi di seminggu pertama. Bahkan biaya bersalin dan berobatpun diganti oleh Tuhan Yesus Kristus. Sejak awal, kami tidak pernah membayangkan semua peristiwa ini. Kami hanya fokus dan minta tuntunan Tuhan Yesus agar kami menjadi perawat Samuel yang berkenan dihadapan Tuhan Yesus. Sekian kesaksian kami, semoga bisa memberkati dan menguatkan saudara seiman. Tuhan Yesus memberkati. Hanz & Amalia
COOL SHARING SUPPLEMENT Mei 2017 #3 – “ITU TUHAN !”

ON 22 May 2017, BY GBI Jl. Gatot Subroto
POSTED IN: Artikel

ALAMILAH KEPENUHAN ROH KUDUS

ON 24 May 2015, BY Felicya Wijaya
POSTED IN: Renungan