BLOG
Audisi Pemain Drama

ON 7 October 2017, BY - POSTED IN: Pengumuman

TEKS Monolog 001

Saya begitu mencintai demokrasi. Tapi saya cuman wong cilik, tak ada tampang seperti pejuang, apalagi pahlawan gagah berani.

Saya tak mungkin masuk koran, wajah saya juga tak banyak dikenal orang. Perjuangan saya hanya sebatas RT 01 tempat saya tinggal.

Demokrasi di tempat kecil ini begitu indah. Semua warga memaknai dan mengamalkan demokrasi tanpa ada paksaan darimanapun.

Saat ada yang anti demokrasi di wilayah kecil nan indah ini, dengan gejolak semangat perdamaian para warga akan meminta saya menyelesaikannya. Ya, mereka menghormati saya sebagai pimpinan hasil demokrasi mereka.

Jika saya mampu, saya bisa mengerahkan mereka bila ada yang megusik demokrasi. Tapi toh buat apa? Di sini, di RT 01, demokrasi sudah berjalan begitu indah. Semua membela demokrasi dengan kompak dan dengan kesadaran sendiri.

Seandainya, semua wilayah negaraku seperti ini. Oh, sungguh indahnya.

TEKS Monolog 002

Rasa ini selalu sama untukmu Ibu, semua cinta serta ketulusan. Hal-hal yang tidak akan pernah tampak sederhana bagiku, tetapi engkau tulus dan menganggap bahwa semua sesederhana yang kau lihat.

Senja merona yang berada di ujung barat selalu menjadi milik kita, untuk bisa menggenapkan waktu menuju malam penuh harmoni. Bukankah begitu bu? Seperti itulah kau untukku, kau senja yang hanya untukku.

Yang selalu menjadi kebahagiaanku. Fajar yang ada di ujung timur juga selalu jadi milik kita kan Ibu? Untuk menerbitkan sinar setelah gelapnya malam yang diselimuti kabut kedamaian.

Selalu itu yang engkau katakan padaku, bahwa selalu ada harapan untuk semua aspek dalam kehidupan ini. Engkaulah yang menerbitkan sinar saat duniaku gelap.

Fajar itu selalu memberikan kehangatan, seperti hangatnya secangkir kopi di pagi hari, kau ingat kan itu bu? Kita selalu menikmati kebersamaan dengan tawa, menyeruput kopi itu sampai tetes terakhir. Mengapa demikian Ibu?

Mengapa semua itu terasa indah saat bersamamu? Kau tahu Ibu, bahwa ini lebih suka duduk di sampingmu dan menceritakan semua hak tentang apapun itu. Bagiku, hal ini lebih menenangkan daripada aku mendengarkan alunan musik instrumen favoritku.

Sudah kuduga dari dulu, bahwa engkau bukan wanita biasa. Lihatlah aku sekarang bu, aku yang setiap harinya selalu bersamamu, sampai detik pun masih mengagumimu. Berapa kata yang hendak kugunakan untuk mengungkapkan semua rasa kagumku terhadapmu? Seribu? Satu juta? Itu semua tidak akan pernah.

Ibu, anakmu ini ingin sekali menjadi yang terbaik di hidupmu. Ibu, anakmu ini ingin sekali menjadi yang engkau banggakan. Ibu, aku anakmu ini ingin sekali ada disampingmu untuk selamanya. I Love Ibu.

Pakai Aku

ON 12 January 2016, BY Raymond
POSTED IN: Renungan