BLOG
MELALUI PINTU YANG SESAK

ON 9 April 2015, BY Felicya Wijaya - POSTED IN: Renungan

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya, karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” ~ Matius 7:13-14

“Don’t look shortcuts to God. The market is flooded with surefire, easygoing formulas for a successful life that can be practiced in your spare time. Don’t fall for that stuff, even though crowds of people do. The way to life -to God!- is vigorious and requires total attention.” ~ Mathew 7:13-14 (MSG) Suatu kali TUHAN YESUS sedang mengajar banyak orang mengenai banyak hal seperti keuangan, perkawinan, uang, kekhawatiran dan sebagainya. Peristiwa ini dikenal sebagai “Khotbah di Bukit” (Matius 5-7). Menarik sekali di akhir khotbah ini, YESUS menutupnya dengan suatu pernyataan-pernyataan yang sangat tegas di pasal 7. TUHAN YESUS mengajar agar kita melalui “pintu yang sesak” yang mengarah kepada kehidupan dan tidak melalui “pintu lebar” yang mudah tetapi menuju kepada kebinasaan. Lalu apakah yang sebenarnya TUHAN YESUS maksudkan dengan “pintu yang sesak” itu?

1.”Pintu yang sesak” adalah Kebenaran Firman TUHAN yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita.

Dalam Matius 7:12 dan Matius 7:24 (bacalah), TUHAN dengan jelas menyatakan bahwa Ia meminta kita untuk hidup dan melakukan apa yang telah diperintahkan-Nya. Semua hukum dan kebenaran Firman TUHAN yang Ia berikan bukanlah untuk membuat hidup kita susah, tetapi justru agar kita menjadi semakin kuat dan teguh dalam iman kepada-Nya. Orang-orang yang tidak mau melakukan apa yang Ia ajarkan, justru merekalah yang akan menerima berbagai kemalangan (7:24-27). Hidup melakukan kebenaran Firman TUHAN mungkin terasa seperti menyesakkan. Sementara banyak orang melakukan secara bebas apa yang mereka kehendaki, TUHAN justru meminta kita hidup sesuai apa yang Ia perintahkan. Hati-hatilah, ikutilah apa yang ditentukan oleh Kebenaran Firman TUHAN sebagaimana yang TUHAN kehendaki dan bukan melakukannya sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Hidup kita hendaknya mengikuti otoritas kebenaran Firman TUHAN dan bukan sebaliknya, yaitu memaksakan kehendak kita dengan mencari pembenaran melalui menafsirkan Alkitab semaunya kita. Firman TUHAN kelihatannya “sesak” tetapi justru itulah yang mendatangkan kehidupan bagi kita. Bacalah juga Roma 8:28.

2.”Pintu yang sesak” adalah Menghasilkan Buah dalam Kehidupan kita.

TUHAN memberikan diri-Nya bahkan sampai ke kayu salib agar kita memperoleh hidup dan memilikinya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). Respons kita adalah menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada-Nya dan hidup dalam kasih dan pengajaran-Nya. Dari situlah kemudian kita menghasilkan buah, yaitu menjadi berkat bagi orang-orang yang ada disekeliling kita. Sebuah buah tidak pernah untuk menjadi keuntungan bagi batang pohonnya, tetapi untuk menjadi berkat bagi siapa saja yang mengambil buah tersebut. Demikian juga hidup kita diberkati oleh TUHAN agar kita menjadi berkat bagi orang banyak. Pertanyaannya, maukah kita menjadi proses agar kita menghasilkan buah? Bisa saja, proses itu ternyata “terasa sesak”. Tetapi percayalah, hasilnya pasti menggembirakan. Salah satu cara menanam biji sesawi, adalah sesuatu yang menarik untuk dipelajari karena memberikan gambaran yang baik bagaimana agar kita bisa berbuah. Para penanam pohon sesawi di Israel akan menguburkan biji sesawi dalam tanah dan meletakkan batu besar diatasnya. Ini akan memaksa biji sesawi untuk bertumbuh agarnya sangat dalam ke dalam tanah, sampai membesar barulah ia bertumbuh keatas dan menggeser batu besar itu. Oleh karena akarnya sudah kuat, maka batu besar apapun yang menghalangi bisa disingkirkan dan pohon itu pasti berbuah karena akarnya dalam. Demikian juga hidup kita: kita harus mengakar kuat kepada kebenaran Firman TUHAN agar kuat, mampu menyingkirkan halangan hidup apapun dan menghasilkan buah yang baik.

3.”Pintu yang sesak” adalah melakukan Kehendak BAPA dan hanya sesuai dengan apa yang Ia inginkan.

TUHAN YESUS mengajarkan sesuatu yang menarik di Matius 7:21-23. Kita harus mengakar (hidup dan melakukan) dalam kebenaran Firman TUHAN, kita harus menghasilkan buah, tetapi semuanya itu harus sesuai dengan apa yang BAPA inginkan kita lakukan. Bukan karena kita memiliki berkat dan karunia (karunia-karunia Roh sekalipun) maka kita bebas untuk menggunakannya semau-maunya kita. Ingatlah, semua itu adalah dari BAPA dan Ia-lah yang empunya. Sama seperti Daud, kita hendaknya melakukan apa yang BAPA kehendaki pada zaman ini (Kisah 13:36). Sementara banyak orang di dunia mencari nama baik dan pujian bagi dirinya sendiri, kita jangan pernah melakukan apapun untuk mencari nama bagi kita sendiri, tetapi hendaklah semua itu untuk kemuliaan BAPA yang telah memberikan segala-galanya bagi kita. Saudara-saudara, marilah kita masuk kepada kehidupan melalui “pintu yang sesak” itu. Dunia sedang menuju kepada kebinasaan karena banyak yang memilih “pintu yang lebar”, yaitu melakukan segala sesuatu menurut kemauan mereka sendiri (tidak sesuai Firman TUHAN), menjadi egois dan tidak menjadi berkat bagi orang lain, dan mencari kemuliaan/pujian bagi diri diri sendiri. Mari kita menuju kehidupan melalui “pintu yang sesak” itu dengan hidup dalam Kebenaran Firman TUHAN, menjadi berkat bagi banyak orang melalui buah-buah hidup yang kita hasilkan dan mengembalikan segala hormat puji kemuliaan bagi BAPA yang sudah dan terus mengasihi kita. Amin. Sumber diambil dari: http://hmministry.id/
Kebenaran yang Membebaskan

ON 1 April 2016, BY Yorieko Ferryanus
POSTED IN: Renungan

COOL SHARING SUPPLEMENT September #2 – Hidup dalam Disiplin Rohani

ON 2 September 2016, BY GBI Jl. Gatot Subroto
POSTED IN: Artikel