BLOG
Pengajaran dan Renungan: Sanctification Love

ON 13 September 2015, BY Yonathan Cahyadi - POSTED IN: Renungan

Kehidupan bangsa Israel merupakan cerminan dari kehidupan orang-orang percaya selama di dunia ini. Hubungan Tuhan dengan bangsa Israel di Perjanjian Lama merupakan gambaran hubungan Tuhan dengan kita sebagai umat pilihan-Nya. Dan peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir sampai masuk ke tanah Kanaan (tanah perjanjian) merupakan gambaran dari proses keselamatan yang Tuhan sediakan bagi kita.

Bangsa Israel dapat keluar dari Mesir bukan karena usaha mereka ataupun perjuangan yang mereka lakukan dengan kekuatan mereka, tapi semata-mata hanya karena kasih karunia Tuhan. Kekuatan tangan Tuhan yang bekerja sepenuhnya. Mulai dari Tuhan memilih dan mengutus Musa, kesepuluh tulah-tulah yang ditimpakan kepada orang Mesir, sampai kepada peristiwa tulah kematian anak sulung yang merupakan gambaran pengorbanan Kristus di kayu salib. Di mana seluruh anak sulung orang Israel tidak mati karena mereka melumurkan darah anak domba jantan di daun pintu mereka. Darah anak domba itu melambangkan darah Kristus yang tercurah di atas kayu salib. Di sinilah proses Justification itu terjadi. Setelah bangsa Israel keluar dari Mesir, mereka memasuki padang gurun yang merupakan gambaran proses Sanctification. Di sini orang Israel mengalami pemurnian, pendewasaan, pengudusan selama mereka di padang gurun. Sama halnya dengan kehidupan keselamatan kita. Setelah kita keluar dari hidup kita yang lama (Mesir), maka kita akan masuk ke dalam kehidupan yang baru yaitu masuk dalam proses pengudusan, pemurnian dan pendewasaan yang tidak mudah. Gambarannya seperti masuk ke padang gurun, penuh dengan kesakitan. Di dalam proses ini peran manusia sangatlah penting, bukan hanya sekedar peran Tuhan saja. Walaupun sakit namun tangan Tuhan tetap beserta kita, sama seperti Tuhan menyertai bangsa Israel selama di padang gurun. Tiang awan selalu ada di siang hari, dan tiang api selalu ada di malam hari, pada saat lapar mereka diberi makan langsung dari Tuhan, pada saat haus mereka diberi Tuhan minum, bahkan kasut mereka tidak rusak selama 40 tahun. Demikian dengan kita sekarang, percayalah sesakit apapun proses Sanctification yang kita jalani, Tuhan tetap menyertai kita dan Dialah yang memberikan kekuatan kepada kita. Jadi dalam proses ini Tuhan dan manusia sama-sama berperan, saling bergandengan tangan berjalan bersama, bukan hanya peran manusia saja atau Tuhan saja, tapi bersama. Selanjutnya, setelah dari padang gurun, Bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian, Tanah Kanaan. Di sinilah proses Glorification terjadi, dan hanya peran Tuhan yang bekerja. Terlihat dari hancurnya tembok Yerikho bukan dengan bangsa Israel mendobrak pintu atau tembok tersebut, tapi hanya karena tangan Tuhan menghancurkannya. Tanah Kanaan menggambarkan kehidupan kekal di sorga, dan proses Glorification merupakan proses permuliaan di mana setiap orang percaya akan dikenakan tubuh kemuliaan dan terjadi pengangkatan menyongsong Tuhan di awan-awan. Dalam proses ini hanya peran Tuhan yang ambil andil. Secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut.

Capture

Sekarang kita akan masuk lebih dalam dalam proses keselamatan yang kedua yaitu proses Sanctification. Proses di mana peran manusia sangat penting bersama dengan peran Tuhan di dalamnya. Sebelumnya mari kita buka dalam 1 Yoh 3:23.
Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.
Perintah Tuhan dengan tegas telah diberikan kepada kita, yaitu yang pertama supaya kita percaya kepada Tuhan, dan yang kedua adalah supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. Dapat kita kaitkan bahwa perintah pertama merupakan proses keselamatan Justification, dan perintah kedua adalah proses keselamatan Sanctification. Di mana untuk di selamatkan kita pertama-tama harus percaya kepada Tuhan sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Setelah proses Justification, kita akan masuk dalam proses Sanctification, di mana semua proses itu dapat kita simpulkan dengan perintah kedua di atas, yaitu supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah Kristus. Jadi proses Sanctification adalah mengasihi.
Siapa saja yang harus kita kasihi? Dalam Mar 12:28-34 dikatakan dengan jelas bahwa kita harus mengasihi Tuhan Allah dan mengasihi sesama seperti diri-sendiri. Jadi sebenarnya ada tiga pribadi yang harus kita kasihi, yaitu mengasihi Allah, mengasihi sesama dan mengasihi diri-sendiri. Kalau kita melakukan perintah ini, di ayat 34 Tuhan memberikan penghiburan yang luar biasa dengan berkata, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Kalau kita mau tidak jauh dari Kerajaan Allah, maka kita harus mengasihi! Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana sebenarnya kita mengasihi? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan melihat contoh kasih yang sejati dari seorang pribadi yang mengasihi dengan benar, yaitu Yesus Kristus Tuhan kita. Kita tahu bersama bahwa Yesus-lah kasih terbesar itu, dan kasih yang Yesus berikan bukanlah hanya berhenti pada Yesus saja, namun setiap orang percaya harus meneladani kasih tersebut. Tuhan berikan contoh bagaimana cara mengasihi dan kita harus ikuti. Salah satu contoh kasih yang Tuhan Yesus terapkan dalam kehidupan-Nya terdapat dalam Yes 53:3.
“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.”
Dalam ayat tersebut terdapat satu frasa yang luar biasa, yang menunjukkan kasih Tuhan yang begitu besar, yaitu “biasa menderita kesakitan.” Kasih yang diberikan oleh Yesus ialah kasih yang walaupun sakit, Ia tetap mengasihi, mengampuni, memberkati. Sehingga Ia menjadi pribadi yang biasa menderita kesakitan karena mengasihi. Jadi, dapat disimpulkan kasih adalah biasa menderita kesakitan.
Seperti yang kita ketahui, proses pemurnian merupakan proses yang menyakitkan sampai menghasilkan sesuatu yang berharga, bermutu, bernilai tinggi. Emas yang dimurnikan memerlukan peleburan dengan suhu yang sangat tinggi. Begitu halnya dengan kehidupan kita, untuk menjadi murni di hadapan Tuhan, kita harus mengalami proses yang menyakitkan, yaitu mengasihi. Mengasihi adalah biasa menderita kesakitan. Karena itu, mengasihi Tuhan berarti biasa menderita kesakitan untuk Tuhan, sakit untuk terus taat dan mengabdi kepada Tuhan, membayar berapa pun harganya supaya tujuan Tuhan tercapai. Sedangkan mengasihi sesama berarti biasa menderita kesakitan untuk sesama. Mengasihi sesama itu mudah kalau kita mengasihi orang yang mengasihi kita, namun sulit kalau kita mengasihi orang yang tidak mengasihi kita. Firman Tuhan berkata jika kita mengasihi orang yang mengasihi ktia, apakah upah kita?; Jika kita ditampar pipi kiri, kasih pipi kanan; adanya saja perkara di antara kita itu sudah menjadi kekalahan bagi kita. Mengapa kita tidak lebih senang menderita ketidakadilan? Mengapa kita tidak lebih senang dirugikan? Sakit yang kita terima karena kita mengasihi, mengampuni, dan memberkati orang yang berbuat jahat kepada kita adalah kasih yang sejati. Mengasihi diri-sendiri berarti biasa menderita kesakitan untuk diri-sendiri. Hal ini berarti sakit untuk terus menyangkal diri untuk tidak mengikuti kedagingan kita (pornografi, bohong, nyontek, curang, benci, marah-marah, gosip, bersungut-sungut, cerewet, nutup diri, malas, menunda-nunda). Segala bentuk kedagingan harus kita lawan sesakit apapun, itulah tanda kita mengasihi diri kita. Biar diri kita semakin kecil dan Tuhan semakin besar dalam hidup kita. Semua ini bukan kita lakukan sendiri namun bersama Tuhan, kita menjalani proses ini bersama Tuhan. Sakit adalah hal yang biasa, itulah tanda kita mengasihi. Dan dasar dari kita mengasihi atau biasa menderita kesakitan adalah karena kita telah menerima kasih Kristus yang begitu besar kepada kita. Kasih Tuhan Yesus Kristus adalah dasar bagi kita untuk mengasihi. Kita bisa menanggung sakit karena:
– Kita terima kasih yang begitu besar dari Tuhan;
– Sakit yang kita alami sebenarnya kecil dan biasa;
– Kita jalan sama Tuhan;
– Percaya bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu.

Pada saat kita merasa tidak sanggup menerima kesakitan, datang kepada Tuhan! Dia akan memberikan kelegaan.
Perumpamaan seorang hamba yang dibebaskan hutangnya menggambarkan sebenarnya apa yang Tuhan tanggung tidak sebanding dengan apa yang kita tanggung. Hutang sepuluh ribu talenta yang dihapuskan tidak sebanding dengan piutang seratus dinar, namun hamba yang telah dibebaskan hutangnya tidak mau melepaskan hutang orang lain kepadanya. Hal ini menunjukkan keserakahan yang begitu rupa dan tidak ada kasih di dalamnya. Kesakitan yang Tuhan alami karena mengasihi kita tidak sebanding dengan kesakitan-kesakitan yang kita alami. Karena itu jadikan setiap kesakitan-kesakitan yang kita alami sebagai kesempatan untuk mengasihi. Kalau kita percaya Tuhan sumber segala sesuatu, terus kenapa kita masih ambil bagian kita, kenapa kita masih berjalan berdasarkan hikmat kita, kenapa kita masih tidak mau rela mengikuti cara Tuhan? Kenapa kita masih hitung-hitungan sama Tuhan? Lambang kasih adalah salib. Berarti pikul salib berarti pikul kasih kemana-mana. Dunia sedang digoncang, ekonomi sedang lesu, karena itu dunia butuh kasih! Dunia butuh bukti kasih dari contoh dan teladan Kristus yg dipancarkan lewat kita. Kita harus memikul salib itu di manapun kita berada. Goncangan-goncangan yang terjadi bukanlah ancaman bagi kita, tapi ini menjadi kesempatan kita! Disinilah letak perbedaan kita dgn dunia: kasih! Kita berasal dari Surga bukan dari dunia ini, jadi prinsip kita adalah prinsip surga: kasih! 3 tipe orang terhadap salib:
1. Orang yang suka bagi-bagi salib (orang yang suka menyebarkan kesakitan)
2. Orang yang suka nolak-nolak salib (orang yang suka menolak kesakitan. Ada gunanya, supaya makin banyak salib yang bisa kita pikul)
3. Orang yang suka pikul-pikul salib (orang yang suka menerima kesakitan sebagai kesempatan mengasihi)
Kita yang suka pikul salib, harus mengajarkan tipe 1 dan 2 supaya menjadi 3, sehingga populasi 1 dan 2 akan semakin habis. Lalu bagaimana kita bisa pikul salib lagi? Disinilah Tuhan akan kirim banyak orang tipe 1 dan 2, dan penuaian besar akan terjadi. Bukan hanya itu, tapi kita siap! Kita siap untuk mengasihi, untuk menampung mereka, untuk pikul salib! Penuaian bukan bicara soal gereja penuh, tapi bicara soal surga penuh! Sampai jumlahnya genap! Jangan sampai revival Justification terjadi tanpa disertai dengan revival Sanctification. Revival Justification terjadi dengan pencurahan Roh Kudus besar-besaran, pentakosta ke-3! Setelah proses Justification mereka lalui, mereka perlu diajar, dibimbing diberi contoh dalam proses Sanctification, dan itu perlu mentor, pengajar, gembala yg memiliki kasih. Habit, tradisi, dan karakternya adalah kasih. Ingat di tahap ini yang berperan adalah Tuhan dan manusia. Jangan sampai peristiwa yang menimpa Mahatma Gandhi terjadi lagi! Jangan sampai justru gara-gara sikap kita, kita malah menjadi batu sandungan, untuk orang bisa masuk surga! Bahaya! Kita harus menciptakan budaya yg baru, yaitu budaya kasih! Belas kasihan justru diberikan bagi yang tidak layak. Kalau ada orang berbuat jahat kepada kita, sampai mungkin tidak layak lagi diberikan pengampunan, maukah kita memberikan belas kasihan itu seperti Tuhan telah memberikan belas kasihan-Nya kepada kita ketika kita masih tidak layak, ketika kita masih dalam keadaan berdosa.

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. (Yohanes 15:13)

Mercy is given for the unworthy

Tuhan Yesus Memberkati
Kasihilah Tuhan Melalui Sesama

ON 20 August 2015, BY Raymond
POSTED IN: Renungan

Kebenaran yang Membebaskan

ON 1 April 2016, BY Yorieko Ferryanus
POSTED IN: Renungan