SERBA-SERBI
Couples Community: Temukan Harta Karun Di Rumah Tangga Anda - Pdt Alex Leo
Tanjung Duren - 17 November 2009. Komunitas Suami Isteri GBI Tanjung Duren mengadakan gathering dengan pembicara Bapak Pdt Alex Leo. Setiap keluarga memiliki harta karun yang terpendam di rumahnya. Ada yang tidak menyadarinya, banyak yang mengacuhkan keberadaannya, sedikit yang mau menggalinya.
Apakah itu?
Kebahagiaan dalam keluarga, ‘di bumi seperti di surga’. Untuk itulah Tuhan merancangkan pernikahan. Ada dua pilihan dalam hidup berumah tangga; seperti masuk surga atau masuk neraka. Kebahagiaan ini bukan sekedar cita-cita atau sekedar didoakan, tapi perlu usaha keras dan pengorbanan yang dilakukan terus menerus.
Pernikahan diawali dengan rasa ketertarikan (eros) pada fisik pasangan. Tetapi eros ini hanya bertahan kurang lebih dua tahun. Setelah itu, perlu dikembangkan cinta dewasa (filia).
‘Ah, tambah lama rasanya seperti kakak adik’,
Bukan cinta seperti kakak adik, tapi tetap cinta suami/istri terhadap pasangannya.
Kalau sampai saat ini kita tidak melakukan/mengorbankan sesuatu untuk pernikahan kita, jangan harap bahagia!
Lalu apa parameter ‘bahagia’ itu?
Semakin lama umur pernikahan kita, harusnya cinta kita (kasih filia) terhadap pasangan semakin kuat.
Sudah siap menggali harta karun?
Salah satu kunci dasar rumah tangga adalah KOMUNIKASI.
Kejadian 11:1-9 mengajarkan kita bahwa bila ada komunikasi yang baik, apapun yang direncanakan akan berhasil
Prahara rumah tangga biasanya diwarnai tiga hal: komunikasi, seks dan uang.
Yang paling dominan adalah komunikasi.
Bila komunikasi bagus, biasanya masalah seks dan uang bisa diminimalisasi.
Komunikasi perlu diusahakan. Itu tidak terjadi dengan sendirinya, sementara kita ongkang-ongkang kaki. Tidak juga hanya didoakan terus tanpa ada tindakan.
Itu harus diupayakan!
Lalu, bagaimana cara membangun komunikasi?
1. Jangan simpan sampah (Ef 4:26-27)
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.
Pernah melihat salah satu iklan obat penguras perut, di mana sang artis membawa-bawa sampah busuk ke mana-mana dalam perutnya?
Demikian juga bila hati kita terus menyimpan kemarahan dalam hati.
Lalu, bagaimana?
Marah itu manusiawi, selama masih terdiri dari darah dan daging – kita masih normal bila merasakan kemarahan. Tetapi ayat firman mengatakan bila engkau marah- jangan sampai berbuat dosa dan jangan sampai matahari tenggelam sebelum amarahmu surut.
Salah ucap, salah intonasi, salah menangkap maksud ucapan bisa menimbulkan luka
di hati. Apalagi dengan pasangan. Yang tadinya bermaksud baik membicarakan sesuatu, malah berbuntut pertengkaran.
Gara-gara luka yang kecil ini, orang mudah terluka dengan hal lain berikutnya.
Lama-lama lukanya menimbun semakin banyak dan mengakibatkan ‘sensi’.
Dikit-dikit jadi berantem, karena ada luka di hati.
Untuk karakter plegmatis, yang cinta damai, mereka lebih menghindari masalah, ‘sudahlah, begini aja diributin.’ – padahal hatinya terluka.
Sebaiknya dibahas dulu bila ada sesuatu yang mengganjal/ menyinggung di hati.
Kadang juga orang sungkan memperpanjang masalah ini, takut terluka lagi. Komunikasi memerlukan keberanian dan pengorbanan untuk saling membuka diri.
Bukankah orang tergelincir karena batu kerikil yang kecil?
2. Belajar untuk mendengar (Yak 1:19-20)
Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah
Tips belajar mendengarkan:
- Jangan mendengarkan pasangan sambil chatting, browse internet, baca Koran, sembari main game apalagi nonton bola.
- Mendengarkan memerlukan waktu dan perhatian khusus, jadi, singkirkan internet, Koran, matikan tv/ computer/ ps anda
- Tatap matanya, arahkan perhatian anda pada topik pembicaraan pasangan.
Memang perlu diakui, kadang topik yang dia (pasangan) bicarakan kurang menarik buat kita; misalnya soal pembantu yang males lah, atap bocor, model baju/ rambut baru milik tetangga yang aneh, TETAPI bukankah dia itu pasangan yang sudah kita pilih untuk berbagi hidup? Pasangan yang kita kasihi?
Kasih memerlukan pengorbanan, melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita sukai- termasuk mendengarkan.
Mengapa kita perlu belajar mendengarkan?
Karena pasangan kita memerlukan tempat curhat, masih untung ia mencari anda- daripada ia mencari orang lain.
Dan pasangan merasa dihargai bila didengarkan.
Bagaimana bila istri ‘gak nyambung’ kayak si Oneng, bila diajak suami berdiskusi tentang pekerjaan?
Bisa terjadi karena kesenjangan pendidikan, tapi istri baiknya mulai mencari tau mengenai bidang usaha suaminya. Atau simak baik-baik pembicaraan suami lebih intens lagi- minta hikmat Tuhan. Lama-lama pasti istri akan mengerti.
Lebih baik ia curhat dengan anda daripada ia curhat dengan mitra wanitanya!
3. Firman Tuhan yang menjadi wasit
Kadang suami dan istri punya pendapat yang berbeda tentang suatu masalah. Masing-masing saling membuktikan dirinya yang paling benar.
Bila hal ini terjadi, paling sehat bila kebenaran Firman dijadikan wasit.
4. Berdoa bersama sesering mungkin
Berdoa bersama itu menyelaraskan roh suami dan istri. Bila suami istri biasa sepakat dalam doa, rohnya secara otomatis terlatih untuk menyatu.
Bila roh sudah selaras, apalagi jiwa?
Gak heran bila suami istri bisa saling mengerti jalan pikiran (seperti telepati) masing-masing akibat sering berdoa bersama.
Ada keselarasan yang dimulai dari kesepakatan berdoa. Cobalah!
5. Gunakan bahasa kasih yang tepat
Gary Chapmann dalam bukunya ‘Lima Bahasa Kasih’ mengupas hal ini dengan baik sekali. Penting bagi kita mengetahui bahasa kasih pasangan.
Karena kita cenderung mengasihi pasangan dengan bahasa kasih yang kita sukai-yang belum tentu cocok dengan pasangan kita.
Hal ini sering menyulut pertengkaran serius dalam rumah tangga.
Berikut lima bahasa kasih:
a. Hadiah
b. Kebersamaan khusus
c. Sentuhan fisik
d. Pelayanan
e. Kata-kata pujian/ penguatan.
Lalu, apa bahasa kasih saya?
Bila anda ulang taun, hal apa yang membuat anda marah?
- Tidak diberi hadiah? (Hadiah)
- Tidak ada makan malam khusus? (Kebersamaan Khusus)
- Tidak ada ucapan?(Kata-kata)
Hal apa yang bisa membuat anda merasa sangat dicintai?
- Dibelai, dicium, ditepuk bahunya? (Sentuhan Fisik)
- Dibelikan hadiah? ? (Hadiah)
- Disediakan makanan? (Pelayanan)
- Dipuji? (Kata-kata pujian/ penguatan)
- Ada waktu spesial berdua? (Kebersamaan)
*Referensi buku ‘Lima Bahasa Kasih’ oleh Gary Chapman di toko buku Kharisma , Puri Indah Mall.
Selamat menggali harta karun anda masing-masing. (SA)
Ikuti GBITanjungDuren.com di Twitter
Yang lain di Serba-Serbi: