SERMONS
Masuk Lebih Dalam

ON 3 SEPTEMBER 2017, BY PDM. HIMAWAN WONGSO ADAM

Baca Yehezkiel 47:1-12

Perikop ini bercerita tentang penglihatan Yehezkiel di Bait Suci Allah, penglihatan ini sebenarnya menceritakan tentang perjalanan kita sebagai orang percaya.

(Yehezkiel 47:3) Sedang orang itu pergi ke arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya, ia mengukur seribu hasta dan menyuruh aku masuk dalam air itu, maka dalamnya sampai di pergelangan kaki.

Posisi saat air berada di pergelangan kaki Yehezkiel adalah analogi bagi tahap awal rohani kita sebagai anak-anak rohani. Anak kecil memiliki sikap yang sulit untuk disiplin, dia melakukan apa yang menjadi kehendaknya pribadi. Sebagai anak-anak kita harus dituntun oleh orang tua, kalau tidak begitu akan selalu melakukan sesukanya. Belum ada disiplin rohani di dalam hidupnya, contohnya adalah sulit untuk disiplin melakukan saat teduh.

Sikap-sikap anak kecil antara lain: gampang kepahitan, mudah merasa tidak dihargai, merasa berjasa, tidak mau disiplin.

(Yehezkiel 47:4a) Ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku masuk sekali lagi dalam air itu, sekarang sudah sampai di lutut;

Mari kita bayangkan apabila posisi air sudah sampai di lutut, pergerakan yang kita lakukan tentu akan semakin susah. Maknanya adalah dari level seorang anak kita mulai masuk ke level hamba. Pada level hamba perjalan rohani akan terasa lebih sulit, mulai ada berbagai tantangan yang dihadapi.

(Lukas 16:13) Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Seorang hamba itu harus mengabdi kepada tuannya. Orang kristen yang masuk level ini, akan seakan-akan “terpaksa” mengikuti Tuhan. Mengalamai kesusahan dalam melakukan berbagai hal kerohanian, terpaksa melakukan disiplin rohani karena berbagai macam tuntutan. Di level ini lebih sulit meninggalkan Tuhan, tapi masih bisa meninggalkan Tuhan.

(Yohanes 15:13-15) Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

(Yehezkiel 47:4b) kemudian ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku ketiga kalinya masuk ke dalam air itu, sekarang sudah sampai di pinggang.

Pada level berikutnya, air sudah mencapai pinggang. Level ini adalah level sahabat. Semua disiplin rohani dilakukan atas dasar kasih. Bukan sekedar dijalani dengan keterpaksaan tapi sungguh didasari oleh kasih kepada Tuhan. Sahabat itu saling mengerti satu sama lain, tidak sekedar seorang teman tetapi kita akan mengenal isi hati Tuhan. Hubungan sahabat adalah hubungan yang penuh kepercayaan dan saling berkomunikasi dengan intim.

Contoh sahabat Tuhan adalah Abraham. Kemana pun dia pergi, dia selalu membangun kemah dekat pohon tarbantin. Pohon tarbantin adalah perlambangan hadirat Tuhan sendiri. Contoh di dalam perjanjian baru adalah Yohanes, dia adalah murid Tuhan yang seringkali disebutkan “murid yang dikasihi”. Yohanes senang berada dekat dengan Tuhan dan berhubungan intim denganNya.

(Yehezkiel 47:5) Sekali lagi ia mengukur seribu hasta lagi, sekarang air itu sudah menjadi sungai, di mana aku tidak dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat berenang, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi.

Level ini adalah level mempelai.

(Lukas 9:23) Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari 1 dan mengikut Aku.

Baca Filipi 2:2-11

Hidup kita bukan lagi untuk diri sendiri, tapi hidup kita seluruhnya bagi keinginan dan agenda Tuhan. Kita tidak hanya dipotong setengah egonya seperti saat kita mengikat janji dengan pasangan hidup kita, tapi sepenuhnya kita menyerahkan kehidupan kita kepada kemauan hati Tuhan. Kemana Tuhan mau bawa hidup kita kesanalah kita pergi. Kita sungguh-sungguh mengosongkan diri untuk diisi dengan kegenapan rencana Tuhan.

(Yehezkiel 47:8-12) Ia berkata kepadaku: “Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup. Maka penangkap-penangkap ikan penuh sepanjang tepinya mulai dari En-Gedi sampai En-Eglaim; daerah itu menjadi penjemuran pukat dan di sungai itu ada berjenis-jenis ikan, seperti ikan-ikan di laut besar, sangat banyak. Tetapi rawa-rawanya dan paya-payanya tidak menjadi tawar, itu menjadi tempat mengambil garam. Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.”

Hidup seorang mempelai Kristus memberi kehidupan bagi orang lain. Setiap orang bisa menikmati kehidupan kita. Mari kita mengejar level mempelai, karena segala disiplin rohani itu adalah bagi kebaikan kita sendiri.

SELECT SERMON

Kebebasan Dalam Kristus

26 April 2015 | Pdp. Andi Auric
SELECT SERMON

Kunci Kemerdekaan: Mengampuni

6 March 2016 | Ps. Elisa Soetopo