SERMONS
Apa yang Engkau Wariskan?

ON 29 OCTOBER 2017, BY DIO A. PRADIPTA

2 Samuel 21:15-17,22 (TB) Ketika terjadi lagi peperangan antara orang Filistin dan orang Israel, maka berangkatlah Daud bersama-sama dengan orang-orangnya, lalu berperang melawan orang Filistin, sampai Daud menjadi letih lesu. Yisbi-Benob, yang termasuk keturunan raksasa — berat tombaknya tiga ratus syikal tembaga dan ia menyandang pedang yang baru — menyangka dapat menewaskan Daud. Tetapi Abisai, anak Zeruya, datang menolong Daud, lalu merobohkan dan membunuh orang Filistin itu. Pada waktu itu orang-orang Daud memohon dengan sangat kepadanya, kata mereka: “Janganlah lagi engkau maju berperang bersama-sama dengan kami, supaya keturunan Israel jangan punah bersama-sama engkau.” Keempat orang ini termasuk keturunan raksasa di Gat; mereka tewas oleh tangan Daud dan oleh tangan orang-orangnya.

Dalam kisah di atas, Abisai menolong Daud dalam peperangan ketika Daud hendak diserang oleh raksasa bernama Yisbi-Benob. Saat itu, digambarkan kondisi Daud sudah kewalahan hingga membuat Yisbi-Benob menyangka bahwa ia dapat menewaskan Daud. Syukurlah, muncul Abisai yang berhasil mengalahkan raksasa tersebut: kemenangan yang mereplikasi apa yang pernah terjadi atas Daud dan Goliat. Seperti kisah di atas, kita harus mempersiapkan Abisai-Abisai zaman ini, yakni anak muda yang siap berperang melawan raksasa-raksasa yang sudah beregenerasi. Perlu kita sadari, apakah kita juga telah ikut beregenerasi? Menjadi anak-anak muda yang siap menopang generasi pendahulu yang kian hari kian lemah dimakan usia? Regenerasi harus dilakukan dari sekarang. Goliat-Goliat baru itu harus dihadapi oleh pasukan anak muda, tidak bisa hanya mengandalkan Daud seperti pada masa mudanya. Ketika raja Daud memasuki masa tuanya ia mulai letih lesu, sama seperti pemimpin-pemimpin kita. Dan sebagai generasi Abisai, kita harus ikut berperang bersama dengan para pemimpin rohani kita. Demikian pula, kita pun harus mulai menyiapkan generasi-generasi Abisai selanjutnya.

Darimanakah Abisai dibentuk? Dalam 1 Samuel 21-22, diceritakan Daud sedang melarikan diri dari raja Saul ke gua Adulam. Berkumpulah di sana bersama Daud, sebanyak 400 orang yang dalam kesukaran, dikejar tukang piutang, dan yang sakit hati. Inilah cikal-bakal pasukan raja Daud yang gagah perkasa, dan dari sinilah Abisai dilahirkan. Gereja merupakan tempat yang harusnya menampung orang yang sakit, yang berdosa, dan dalam keadaan yang tidak baik. Saat itu meskipun Daud sedang dalam pengejaran oleh raja Saul, tetapi Daud tetap mau menjadi pemimpin mereka, membina, membangun hubungan, dan mendidik mereka. Daud memberikan warisan berupa gaya hidup memuji dan menyembah kepada orang-orang tersebut, dengan memberikan teladan untuk tetap memuji Tuhan dalam keadaan apapun (Mazmur 34)

Sebagai generasi Abisai yang suatu saat akan menua seperti Daud menjadi letih lesu, kita harus menerima warisan dan meneruskan warisan tersebut melintasi generasi. Penting untuk memastikan bahwa kita meneruskan: jubah pujian dan penyembahan, iman, dan jubah pengurapan . Jubah Pujian seperti yang sudah diceritakan di atas, merupakan gaya hidup yang melekat, untuk terus memuji dan menyembah Tuhan dalam segala keadaan. Yang selanjutnya, iman merupakan sesuatu yang harus diwarisakan kepada angkatan yang selanjutnya, agar angkatan-angkatan selanjutnya mengenal Tuhan Yesus. Dan hal terakhir yang harus diwariskan adalah jubah pengurapan karena kuasa dan urapan yang sama seharusnya akan diterima oleh setiap anak-anak muda tanpa terputus pada suatu generasi.

Kita harus mempersiapkan diri kita dan mempersiapkan generasi di bawah kita sebagai pasukan yang siap berperang untuk melawan raksasa-raksasa yang ada pada zaman ini.

SELECT SERMON

Kita sangat penting bagi Tuhan

24 April 2016 | Ev. Julia Halim
SELECT SERMON

Anugerah yang Menyelamatkan

27 March 2016 | Pdp. Joshua Sudarsono
SELECT SERMON

God’s Momentum

10 September 2017 | Pdt. Agustinus Puspawiguna