SERMONS
Banyak yang dipanggil sedikit yang dipilih

ON 13 AUGUST 2017, BY PDT. AGUSTINUS PUSPAWIGUNA

(Efesus 4:1) Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

Gereja hari-hari ini banyak fokus hanya kepada kuantitas, mencoba segala cara agarnya gerejanya dipenuhi dengan jiwa. Tapi ada hal yang tidak kalah penting adalah penginjilan ke dalam, menginjil ke dalam jemaat Tuhan bertujuan untuk membawa orang-orang Kristen yang sudah di dalam gereja agar menjadi umat yang layak bagi kerajaan Allah.

Mengapa hal ini perlu dilakukan? Karena ada orang-orang kristen yang ingin menerima keselamatan tapi tidak mau melakukan bagiannya.

(Markus 8:34) Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Tuhan berkata kita harus menyangkal diri kita, memikul salib dan mengikut Kristus. Kisah kita dalam mengikut Tuhan adalah seperti perumpaan seekor babi yang dijadikan binatang peliharaan di rumah. Mari kita bayangkan, seekor babi yang tadinya sehari-hari bermain di lumpur dan dalam keadaan yang kotor, suatu hari diambil oleh satu keluarga dan dijadikan peliharaan di rumah. Dimandikan dan dibersihkan, diberi makan yang baik bahkan dipenuhi dengan kasih sayang. Untuk babi yang seperti ini, apakah keluarga yang mengambilnya akan membiarkan dia kembali bermain di lumpur seharian? Tentunya tidak. Analogi yang sama ini berlaku bagi setiap kita yang sebelumnya sehari-hari dipenuhi dengan dosa dan Tuhan angkat kita sebagai anak-Nya, mendapatkan bagian dalam kerajaan Allah. Apakah layak dan pantas bagi kita untuk kembali lagi dalam kehidupan yang penuh dengan dosa? Tentu tidak.

Kita tidak dapat menginginkan keselamatan tapi masih mau hidup dengan gaya dunia.

(Efesus 1:6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

(Yohanes 8:12) Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

Sebelum kita menerima Yesus kita adalah hamba dosa, lewat penebusan Tuhan kita menjadi hamba Tuhan. Kita tidak lagi menjadi hamba dosa, kalau kita masih jadi hamba dosa itu berarti penebusan itu sesungguhnya belum terjadi di dalam hidup kita.

Sebagai hamba Tuhan berarti kita menjadi:

1. Warga kerajaan Allah
‌‌
2. Menerima hak warga kerajaan
‌‌
3. ‌Mengerjakan keselamatan (melakukan kewajiban warga kerajaan Allah)

(Filipi 2:12) Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,

Baca Matius 22:2-14

Dalam perumpamaan perjamuan kawin anak raja ini, kita dapat melihat bahwa ada orang yang tidak dapat dipilih masuk dalam kerajaan Allah karena tidak mengerjakan keselamatannya, meskipun dia telah dipanggil oleh Tuhan.

Kenapa orang tersebut bisa gagal dipilih?

1. Prioritas yang salah

Our greatest fear should not be of failure but of succeeding at things in life that don’t really matter. – Francis Chan

Tuhan hanya bisa pilih sedikit orang karena ada yang tidak melakukan panggilannya. Seringkali kita merasa keberhasilan yang dunia tawarkan lebih penting daripada keberhasilan dalam kerajaan Allah. Sehingga kita lupa status kita dan tujuan apa yang harusnya kita kejar. Jangan sampai kita lupa akan tujuan kita karena kita tidak ingat status kita sebagai bagian dari kerajaan Allah. Kita ini hamba, budaknya Kristus Yesus. Kita harus dalam menempatkan diri kita dibawah kehendak dan kemauan Tuhan.

(Roma 1:1) Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.

Seperti Paulus ibarat seorang James Bond, punya “license to kill” (hak membunuh orang Kristen). Meskipun begitu Paulus tidak bangga sama sekali akan semua itu, baginya predikat “hamba Tuhan” lebih berharga daripada segala posisi yang telah dicapainya dahulu. Seorang budak itu tidak punya hak apapun, apakah kita lebih mementingkan agenda Tuhan atau kepentingan kita sendiri. Kita bisa salah arah tergantung apa yang kita banggakan, karena kita akan mengarahkan hidup kita kepada kebanggaan itu. Kalau kita membanggakan jabatan, harta atau penampilan kita, kita akan mengarahkan hidup kita fokus ke sana. Bukan berarti menjadi hambaNya adalah menjadi full timer di gereja. Tapi di dalam setiap profesi kita, kita meninggikan nama Tuhan bukan untuk jabatan atau gaji yang lebih besar.

2. Sikap yang salah

Seringkali kita lupa bahwa hamba itu harus selalu melakukan apa yang diminta oleh tuannya.

Sikap yang keliru adalah: merasa cukup (saya sudah..)

Seperti orang yang dipanggil dalam perumpamaan sebelumnya, ada yang tidak mau mengganti bajunya ke baju pesta dengan membatin di dalam hati “saya datang saja khan sudah bagus”. Ataupun “saya melayani saja sudah bagus”. Janganlah kita sombong dan merasa terlalu banyak memberi. Jangan pernah merasa sudah memberi cukup dan melayani cukup. Tidak pernah ada kata cukup bagi kita itu membayar apa yang Tuhan sudah lakukan bagi setiap kita. Jangan sampai kita melayani Tuhan sekedarnya, karena merasa sudah melakukan ini dan itu.

<‌q>Marilah kita menjadi hamba Tuhan yang taat akan kehendak Tuhan, mempunyai sikap yang rendah hati dan hari-hari ini Tuhan mengajak kita juga turut ambil bagian menabur dalam berbagai ladang pekerjaanNya yang luar biasa.

SELECT SERMON

Menghadapi Ketakutan

18 June 2017 | Pdt. Aruna Wirjolukito
SELECT SERMON

Kebebasan Dalam Kristus

26 April 2015 | Pdp. Andi Auric
SELECT SERMON

God is Good, All The Time

6 September 2015 | Ps. Julita Manik