SERMONS
Belajar dari Abraham

ON 29 OCTOBER 2017, BY PDT. SONNY ZALUCHU

Kita akan belajar dari bapak orang beriman, Abraham. Abraham adalah bapak orang beriman, bapak setiap daripada kita. Segala berkat Abraham menjadi bagian kita di dalam kekristenan. Maka kita disebut sebagai anak2 Abraham, berkat yang generasional yaitu berkat yang turun dari generasi ke generasi.

Baca: Kejadian 17 ayat 1-8

Ayat di atas adalah janji yang diberikan Allah untuk Abraham. Dalam perjalanan hidup Abraham Tuhan memintanya untuk pindah dari kota kediamannya dan Abraham menuruti hal itu sampai pada akhirnya Tuhan menjanjikan keturunan yang banyak serta kepemilikan tanah Kanaan. Perjalanan Abraham sampai menerima janji Tuhan dapat kita pelajari untuk diaplikasikan di dalam kehidupan kita.

Secara logika saat Tuhan menjanjikan keturunan yang banyak pada Abraham, kita pasti akan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Butuh 25 tahun dari janji yang Tuhan ucapkan kepada Abraham sampai janji itu digenapi. Kita harus menyadari bahwa selalu ada jarak antara janji dan kegenapan, sehingga jangan kita terburu-buru menyerah dan surut imannya saat hal yang Tuhan janjikan membutuhkan waktu lama untuk terjadi. Akan tetapi ada hal yang dapat membuat jeda antara janji dan kegenapan itu dipersingkat yaitu bagaimana respon kita terhadap janji Allah.

Respon sangat erat kaitannya dengan karakter. Kalau karakter kita tidak baik, kita bisa menjadi pribadi yang mudah kecewa lalu hanya fokus meminta-minta Tuhan menggenapi janji-Nya. Yang membuat janji Allah semakin lama terjadi adalah respon setiap kita. Waktu Tuhan bisa dipercepat dan diperlambat sesuai dengan respon kita. Seperti yang kita pelajari dari firman Tuhan bahwa iman tanpa perbuatan sesungguhnya adalah mati.

Kita harus melangkah di dalam janji Tuhan meskipun janji itu terlihat mustahil. 25 tahun adalah masa Allah membentuk Abraham, yang sebenarnya Tuhan ingin bentuk adalah karakter dari Abraham lewat respon yang diberikan. Ada 2 fase dalam kehidupan Abaraham sehubungan dengan perjalannya mendapatkan kegenapan janji Tuhan:

Fase pertama, saat bernama Abram. Abram adalah orang yang terlalu kuat kedagingannya, orang seperti ini akan sulit menerima janji Allah.

Saat terjadi kelaparan Allah meminta Abram meninggalkan keluarga dan sanak saudaranya untuk pergi ke kota yang ditunjukkan Tuhan. Pada jaman itu ada 3 kerajaan besar, salah satunya adalah kerajaan Mesir. Abram yang mengalami kelaparan di pusat dunia itu menjadikan kerajaan Mesir sebagai tujuan pertamanya untuk mencari makan. Seperti Abram, kita seringkali lebih mau mengandalkan apa yang mata kita bisa lihat. Seharusnya solusi pertama yang dicari Abram adalah Tuhan. Hal inilah yang membuat janji Allah tertunda yaitu daging kita yang terlalu kuat, biarlah kita menyingkirkan Mesir-Mesir di dalam hidup kita dan fokus berharap pada Tuhan terutama saat mengalami masalah.

Dalam perjalanan di Mesir Abram juga berbohong mengenai hubungannya dengan Sara. Abram memanipulasi fakta untuk keselamatan dirinya sendiri sampai Abram diusir oleh Firaun dan diberikan putrinya sebagai persembahan bagi Abram. Putri Firain ini adalah Hagai, yang menjadi budak dari Sara. Apabila kita membiarkan diri kita bergantung kepada Mesir, maka Mesir akan menjadi bagian hidup kita meskipun tidak kita sadari. Mesir masuk dan mempengaruhi kehidupan Abram yang digambarkan lewat keberadaan Hagai. Orang yang kedagingannya kuat, memiliki orientasinya fakta. Kalau kita sudah berpikir tidak mungkin, tidak akan pernah terjadi mujizat itu. Seperti keputusan Abram untuk mengikuti saran Sara yang menyuruhnya tidur dengan Hagai, hal itu dilakukan atas dasar ketidakpercayaan akan janji Tuhan. Maka lahirlah Ismael yang bukan anak perjanjian Tuhan. Jangan pernah membantu Tuhan lebih daripada apa yang dikatakan oleh Tuhan sendiri.

Fase kedua, saat bernama Abraham. Dari anak biasa (Abram) menjadi anak Allah (Abraham). Seperti Tuhan masuk ke dalam kehidupan Abram dan mengubah namanya, ijinkan Tuhan menginterfensi hidup kita. Hanya Tuhan yang bisa mengubah manusia. Dapat kita lihat perubahan hidup Abraham dalam Alkitab setelah namanya berubah menjadi Abraham, dia tidak lagi melakukan tindakan yang tidak berkenan kepada Tuhan dan imannya yang teguh menjadi teladan bagi kita semua. Mari kita berdoa kepada Tuhan agar Dia menangkap setiap kita, seperti yang dilakukan dalam kehidupan Abraham. Selama kita berada dalam identitas yang lama, maka daging akan terus hidup di dalam hidup kita.

(Kejadian 17:23) Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya.

Pernahkan kita renungkan mengapa Tuhan ingin setiap bangsa pilihanNya untuk disunat? Sunat melambangkan keputusan untuk memotong daging kita dan tidak membiarkannya kembali lagi di dalam hidup kita. Tanda pertama dari sunat rohani adalah mengalami kepenuhan di dalam Roh Allah lalu tahap yang berikutnya kita harus dikuasai roh Allah.

Ijinkan roh Allah menguasai hidup kita dan menundukkan daging kita. Jangan terus berada di dalam level Abram, biarkan daging kita dipotong agar janji dan rencana Ilahi Tuhan semakin cepat digenapi di dalam hidup kita.

SELECT SERMON

Musim dalam Hidup Ini

25 October 2015 | Pdt. Suhana Setyawan
SELECT SERMON

Ishak, Kesetiaan Janji Tuhan

4 October 2015 | Pdm. Himawan Wongso
SELECT SERMON

God’s Momentum

10 September 2017 | Pdt. Agustinus Puspawiguna