SERMONS
Berdampak

ON 12 NOVEMBER 2017, BY PDT. AGUSTINUS PUSPAWIGUNA

Menjadi pribadi berkarakter Kristus yang penuh kasih dan berdampak.

Bagaimana hidup seseorang bisa membawa dampak?
Cara paling sederhana untuk menjadi berdampak dalam hidup seseorang adalah dengan memberikan kesaksian. Namun harus diperhatikan, apakah kesaksian yang kita sampaikan berisi kebanggan dan kehebatan kita pribadi? Atau kita rindu bisa membagikan kesetiaan Tuhan dalam degala kondisi yang kita alami? Kesaksian yang membuka kisah gelap dari hidup kita dan menceritakan bagaimana Tuhan memenangkan hidup kita, tentu akan lebih berdampak dibandingkan kesaksian kita yang berfokus pada keberhasilan dan rentetan prestasi semata. Sesungguhnya, ketika kita mau membagikan cerita kegagalan kita pada orang lain, kesaksian kita akan membawa dampak yang lebih besar dibandingkan dengan menyombongkan kehebatan kita.

Bagaimana pribadi yang penuh kasih bisa membawa dampak?
Manusia tidak akan pernah bisa berdampak jika gambar dirinya tidak dipulihkan. Orang yang gambar dirinya tidak pulih akan merasa tidak berharga dan tidak percaya diri. Ketika kita dipenuhi oleh kasih Allah, gambar diri kita pulih dan kita bisa menerima diri kita apa adanya, menyadari bahwa Allah adalah sempurna dan kita diciptakan dalam kesempurnaan-Nya. Hanya orang yang gambar dirinya sudah pulih yang bisa menyadari bahwa dirinya berharga dan mempunyai percaya diri. Hanya orang yang percaya diri yang bisa membawa dampak karena terang Tuhan harus bercahaya di depan orang supaya kemuliaan Tuhan dinyatakan (Matius 5:16)

Sesungguhnya apakah kita merindukan kesuksesan atau menjadi berdampak?
Sukses dan menjadi berdampak adalah dua hal yang berbeda. Sukses berarti meraih satu pencapaian, sedangkan berdampak artinya membawa suatu makna bagi hidup seseorang. Apabila tujuan kita sekadar ingin sukses, maka akan terbentuk kecenderungan yang individualis dan meninggikan diri sendiri. Tenggelam dalam pengejaran kesuksesan akan membuat kita senang bila melihat pencapaian kita dapat melebihi orang-orang lain: memandang orang lain semakin rendah dan diri kita semakin tinggi Namun ketika tujuan kita adalah ingin menjadi berdampak, maka kita akan merindukan bagaimana hidup kita bisa memberikan suatu perbedaan pada hidup seseorang: bagaimana hidup kita bisa dipakai Tuhan untuk mengubahkan hidup orang lain.

Apakah kita ingin dipakai Tuhan?
Ketika kita menjawab ‘iya’ atas pertanyaan tersebut, kita perlu menyelidiki: apakah kehidupan kita sudah selaras dengan jawaban tersebut? Tujuan akhir kita adalah masuk surga, dan tujuan hidup kita tidak boleh dipertentangkan dengan itu. Termasuk faktor-faktor di dalamnya seperti pasangan hidup, sesungguhnya kita harus konsisten dan konsekuen dalam komitmen kita dengan Tuhan. Tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kita tidak bisa mengabdi kepada Allah dan kepada mamon (Lukas 16:13). Kita harus membuat keputusan, karena mengejar Allah dan mengejar mamon jelas memiliki tujuan yang berbeda. Nyatakan pengabdian kita pada Tuhan melalui hidup yang nyata dan prinsip yang tidak goyah dalam segala keadaan. Dengan komitmen untuk mengabdi pada Tuhan dan kerinduan untuk mengalirkan kasih-Nya, kita akan menjadi pribadi yang berdampak melalui kesaksian dan hidup kita.

Kisah kesuksesan akan membawa kekaguman, tapi kisah kegagalan mampu membawa dampak dan mengubahkan

SELECT SERMON

Memancarkan Kemuliaan Tuhan

27 December 2015 | Pdt. Hadi Oetojo
SELECT SERMON

Umat yang Tahan Api

2 April 2017 | Ps. Samiton Pangellah
SELECT SERMON

Menang dalam Penderitaan

9 April 2017 | Pdt. Agustinus Puspawiguna