SERMONS
Christianity: from Inside to Outside

ON 30 JULY 2017, BY DIETER NICHOLAS GUNAWAN

Colossians 1:27 (KJV) To whom God would make known what is the riches of the glory of this mystery among the Gentiles; which is Christ in you, the hope of glory

Kekristenan bukan agama. Yohanes 10:10 mencatat “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membbinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Tuhan Yesus tidak mengatakan “supaya mereka mempunyai agama”, melainkan “supaya mereka mempunyai hidup’. Kekristenan adalah kehidupan, kekristenan berakar dari dalam dan memancarkan terang ke luar. Kebenaran dalam kekristenan bukanlah apa yang terlihat dari luar, melainkan apa yang ada di dalam hati.

Manusia dunia mengenal agama dan kepercayaan sebagai satu petunjuk hidup untuk meraih kebahagiaan akhirat. Dalam agama, kesalehan dan keintiman dengan Tuhan ditunjukkan melalui penampilan luar: menutup aurat, rajin sembahyang tepat waktu, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan apa yang terlihat dari luar menjadi tolak ukur dari iman seseorang. Lain halnya dengan kekristenan: kebenaran akan terpancar melalui hati yang cinta Tuhan, sehingga melalui pembaharuan budi yang berorientasi pada kekekalan, terang kemuliaan Tuhan dapat memancar dari dalam diri setiap orang yang cinta Tuhan Yesus.

Karya Tuhan dalam hidup setiap kita selalu dimulai dari dalam. Kuasa Tuhan langsung mengubahkan hati setiap anak-anakNya dan perlahan akan berbuah sebagai karakter yang menyerupai Kristus. Seperti yang tersampaikan pada ayat pembuka, ada tertulis “which is Christ in you” yang dalam terjemahan bahasa Indonesia dikatakan “Kristus ada di tengah-tengah kamu”. Demikianlah bagaimana Kekristenan mengubah hidup kita dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam. Karena Kristus yang kuat, hebat, dan dahsyat tinggal di dalam hati setiap kita. Sang Pencipta yang Maha Kuasa memutuskan untuk menjadikan kita Bait Roh Kudus; tempat tinggalNya yang kudus.

Kebenaran yang sudah menguasai kita, hendaknya memenangkan tubuh jasmani kita; sehingga Roh Jiwa dan Tubuh kita bersatu dalam kebenaran Kristus. Kemenangan Roh melawan keinginan daging hanya dapat tercapai apabila kita terus memberi “makan” Roh kita dengan kebenaran Firman Tuhan dan mendekatkan diri melalui doa, saat teduh, maupun pertemuan ibadah. Ketika Roh memenangkan pertandingan melawan daging, makan kita akan sadar bahwa hidup kita adalah pelayanan kita, dan bahwa keinginan daging adalah sia-sia tetapi keinginan Roh akan mendatangkan damai sejahtera dan sukacita yang berlimpah-limpah.

Bangkitkan dan kuatkan Roh mengatasi daging, supaya Terang Kristus bercahaya atas kita. Untuk memahami pentinnya hidup dalam Roh dan mengalahkan keinginan daging, simaklah pengertian yang diambil dari Efesus pasal 5 ayat 14-17:
Ayat 14-15
Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu. Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,”
Supaya terang Kristus bercahaya atas kita, kita harus memperhatikan hidup kita: hidup tidak seperti orang bebal, melainkan orang arif. Pengertian orang arif melebihi dari sekedar orang yang bijaksana. Orang arif adalah orang yang mengalami pembaharuan budi sehingga mengerti kehendak Allah dan memahami mana yang berkenan bagi Allah dan mana yang akan mendukakan hatiNya. Orang arif adalah orang yang cerdas dalam Roh, yang tidak hanya membangun apa yang tampak di luar, melainkan sungguh-sungguh membangun apa yang ada di dalam.
Ayat 16-17
“dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”
Ayat ini berbicara, bagaimana kita harus menebus hari-hari ini supaya menjadi hari-hari yang berkenan bagi Tuhan, yang seturut dengan kehendakNya. Bagaimana kita menjalani hari-hari dalam hidup kita sebagai pelayanan yang takberkesudahan dan selalu fokus pada kehendak Allah dalam setiap langkah kita. Diperjelas dalam ayat 17 bahwa kita harus berusaha mengerti kehendak Tuhan. Kata “mengerti” pada ayat 17 dapat diilustrasikan seperti ini: dalam pertandingan karate, ada dua jenis pertandingan yang dikenal yakni kata dan kumite. Pertandingan kata mengharuskan pesertanya untuk mengikuti gerakan secara bersamaan. Semakin persis gerakannya, semakin tinggi nilainya. Sedangkan pertandingan kumite mengharuskan peserta untuk bertanding dengan kemampuan karate yang sudah dikuasainya. Kata “mengerti” pada ayat 17 bukanlah sekedar kata: sekedar paham dan terlihat mampu; teteapi merupakan kumite yakni bisa mengaplikasikan apa yang dia pahami dan menunjukkan kemampuan secara nyata. Ini berarti pengertian akan Tuhan bukanlah sekedar “terlihat tahu”, bukan sekedar rajin beribadah dan memeberi perpuluhan. Melainkan harus ada kesungguhan untuk mengerti apa yang Tuhan ajarkan dan melakukannya dengan sungguh, sehingga nampak bagi orang lain bahwa ada yang berbeda di dalam kita: ada Kristus di dalam kita.

Satu contoh dapat dipejarai dari kisah Daniel. Dikisahkan pada Daniel 6 bahwa pada masa itu dilakukan pengangkatan untuk pejabat tinggi dan para wakil raja. Pada Daniel 6:4 ada tertulis: “Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai Roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.” apa yang membuat Daniel mampu menandingi pejabat-pejabat lain pada masanya bukanlah kuat dan gagahnya sendiri, bukanlah keberaniannya maupun kepintarannya, melainkan Roh Allah yang hinggap pada umat pilihanNya pada zama perjanjian lama lah yang memampukan Daniel menjadi sosok yang menonjol di tengah-tengah pemerintahan tersebut. Dari hal itu kita tahu, bahwa apa yang membuat sesorang mampu menjadi pemenang dalam hidupnya adalah Roh Tuhan yang tinggal di dalamnya. Roh yang dulu hanya hinggap pada orang-orang pilihan Tuhan, sudah dicurahkan sebagai Roh Kudus yang diam dalam hati setiap kita pada zama kasih karunia. Cerminkanlah hidup yang dipimpin oleh kepenuhan akan hikmat Allah, dan alamilah terang Tuhan sungguh bercahaya dalam hidup kita.

God is irreplaceable: He is in you!

SELECT SERMON

Hidup Tetapi Mati

28 May 2017 | Pdt. Audy Rochadi
SELECT SERMON

Memenangkan Kekuatiran

26 July 2015 | Pdt. Sonny Waplau
SELECT SERMON

Kesadaran akan Keselamatan

8 May 2016 | Pdt. Agustinus Puspawiguna