SERMONS
Divine Destiny – Restoring The Land

ON 2 JULY 2017, BY PDP. FRANK SANTOSA

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10)

Setiap kita memiliki takdir yang ilahi. Semua manusia diciptakan oleh Tuhan, karena itu kita harus mengasihi, mengampuni, dan mendoakan sesama manusia siapapun dia. Kita bukan hanya sekedar buatan Allah tapi kita diciptakan dalam Kristus Yesus. Diciptakan dalam Tuhan Yesus berarti lahir baru. Setiap kita dapat dikatakan lahir baru apabila kita sudah pernah bertemu dengan kasih Allah. Tujuan Tuhan menjadikan kita ciptaan yang baru adalah supaya kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk menjalani rencana Tuhan dalam hidup kita, yaitu pekerjaan baik. Tuhan mau supaya kita hidup di dalam divine destiny yang sudah Dia rancangkan.

Memasuki rencana Tuhan bukanlah sesuatu yang mudah. Hal ini disebabkan karena semua manusia sudah jatuh di dalam dosa, kutuk kegagalan yang dibawa dari Adam ada di hidup kita sehingga sulit mengerti kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Berikut adalah akibat dosa yang Tuhan sampaikan dalam firmanNya:

1. Akibat bagi iblis/ular
Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. (Kejadian 3:14)

2. Akibat bagi manusia
Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: (Kejadian 3:17)

Kita dapat melihat perbedaan besar dari kedua ayat diatas. Akibat dosa, Tuhan mengutuk iblis secara langsung tetapi kepada manusia Tuhan mengutuk tanah sebagai hukuman. Lewat ayat ini kita dapat melihat betapa Tuhan sayang kepada manusia. Dalam kehidupan kita sehari-hari “tanah” dapat berarti kehidupan keluarga kita, sekolah, kuliah, pekerjaan, hubungan kita dengan sesama, dan berbagai aspek lainnya.

Mari kita melihat akibat dari tanah yang dikutuk:

semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; (Kejadian 3:18a)

Semak duri dan rumput duri adalah situasi yang tidak menyenangkan dan tidak nyaman di dalam kehidupan kita. Misalnya saja keluarga yang broken home, hubungan yang penuh konflik dengan sesama, tekanan yang berat di lingkungan kerja, dan lain sebagainya.

Sudah saatnya kita sungguh-sungguh meninggalkan segala perbuatan dosa. Mata Tuhan melihat segala perbuatan yang terjadi di atas tanah dan tanah itu mencatat serta melaporkan kepada Tuhan.

Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, mengubah ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi. (Yesaya 24:5)

Pada ayat diatas dikatakan bumi cemar karena banyaknya perlakuan dosa. Sebabnya adalah tiga hal berikut:

1. Melanggar undang-undang.
Contoh dari melanggar undang-undang yang paling sederhana adalah menerobos lampu merah, tidak memakai helm saat naik motor, atau pelanggaran yang lebih fatal seperti korupsi dan lain sebagainya. Ketika kita melanggar undang-undang ada semak duri di dalamnya, tanah mencatat dan melaporkan kepada Tuhan. Mari kita sama-sama belajar untuk benar-benar taat pada aturan.

2. Mengubah ketetapan.
Misalnya apabila kita sudah mengadakan deal bisnis tertentu dan kita tidak menjual barang sesuai kesepakatan dengan menurunkan kualitas. Tidak saat teduh setiap hari dan datang terlambat saat ibadah juga adalah bentuk melanggar ketetapan.

3. Mengingkari perjanjian abadi.
Contohnya adalah dengan mengikari iman percaya kita kepada Tuhan Yesus karena alasan pernikahan. Suami istri yang selingkuh juga mengingkari perjanjian abadi. Saat kita sudah tertanam dalam suatu gereja dan meninggalkannya bukan karena kemauan Tuhan, itu juga suatu bentuk pengingkaran.

Bagaimana cara agar tanah dapat dipulihkan?

dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. (2 Tawarikh 7:14)

Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: “Salam, hai Raja orang Yahudi!” (Matius 27:29)
Melalui ayat ini Tuhan memberi pengertian bahwa semak duri yang ada di dalam hidup kita juga sudah ditebus dengan darah Kristus yang mengalir di kepalaNya.

Tanah kita ini dapat dipulihkan apabila dipenuhi oleh orang-orang yang hidup sesuai takdir ilahi.
Tuhan mencari orang yang mau sungguh-sungguh berdiri atas bangsanya:

Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya. (Yehezkiel 22:30)

Apa yang harus kita lakukan?
1. Bertobat: tinggalkan jalan yang salah, taati undang-undang, ketetapan, perjanjian, kembali pada panggilan masing-masing.
2. Deklarasikan (doa, doa keliling, perkatakan): mari kita berdoa bahwa Yesus menyembuhkan dan mencabut duri dari tanah di kota dan bangsa kita.
3. Bertindak: lakukan keluar untuk mencabut semua duri (memulihkan). Iman harus muncul dalam tindakan, kita harus mulai melangkah dan memberikan dampak dengan tuntunan dari Tuhan. Masih banyak semak duri yang Tuhan inginkan kita untuk keluar menjadi pemulih seperti kemiskinan, kutuk dalam keluarga, masalah sosial, free sex, drug, etc).

Mari kita masuk di dalam Divine Destiny yang Tuhan tentukan dalam hidup kita dan ingatlah saat hati kita menjauh dari Tuhan, kita sedang mengalami kejatuhan. Kita harus sungguh-sungguh hidup dalam pertobatan, selalu bertindak dalam iman dan kasih untuk menyatakan kemuliaan Tuhan.

SELECT SERMON

Yesus, Tuhan yang Tidak Pernah Curang

2 August 2015 | Pdt. Benny Gunawan
SELECT SERMON

Menerima Janji Allah

16 April 2017 | Ps. Harry Sudarma