SERMONS
Hidup Sesuai Tujuan

ON 18 JUNE 2017, BY PDT. TOMMY SIMANJUNTAK

1 Petrus 1:18-19 (TB) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama dengan darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Kita semua sudah menerima keselamatan yang dari Allah, dan kita semua mengimani keselamatan tersebut telah membebaskan kira dari kuasa dosa sehingga kita layak untuk kembali ke rumah Bapa di Sorga. Namun, keselamatan yang kita terima nyatanya tidak hanya membebaskan kita setelah kita meninggal dunia, melainkan juga membebaskan kita selama kita masih tinggal di Bumi. 1 Petrus ayat 18 dan 19 menegaskan bahwa kematian Kristus di kayu salib tidak hanya melayakkan kita untuk kembali bersekutu dengan Allah, namun juga menebus kita dari cara hidup sia-sia yang kita jalani selama ini.

Ketika suatu barang dibuat, pembuatnya telah memikirkan baik-baik tiap bentuk dari komponen yang ada pada barang tersebut untuk memaksimalkan suatu fungsi yang telah ditentukan sejak awal sebagai tujuan dibuatnya barang tersebut. Apabila pada kenyataannya barang tersebut tidak digunakan sesuai fungsinya, maka sia-sialah komponen-komponen serta bentuk dan rancangan yang sudah ada karena barang tesebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Sama seperti ilustrasi di atas, manusia diciptakan Tuhan untuk suatu tujuan yang sudah ditetapkan sejak semula. Firman Tuhan pada Yesaya 43:7 berbunyi: ”semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”, ini berarti Tuhan sudah menetapkan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk kemuliaan Tuhan.

Berbeda dari kebenaran Firman Tuhan, dunia sering salah menginterpretasikan “kemajuan” sebagai “tujuan”. Kebanyakan manusia dunia menjalani hari-harinya dengan berfokus pada “kemajuan” yang mereka anggap sebagai “tujuan”. Mendapat berkat untuk membeli kendaraan, membeli rumah, berkeluarga, berwisata ke luar negeri, hingga mampu menikmati hari tua tanpa kesulitan finansial sudah menjadi tujuan sukses sebagian besar manusia untuk menjalani hari-harinya. Kenyataannya, hal-hal tersebut di atas hanyalah ukuran-ukuran kemajuan kehidupan manusia, dan tidak sepatutnya menjadi tujuan hidup manusia.

Sesuai kebenaran Firman Tuhan, tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Tuhan. Alkitab mencatat setidaknya ada tiga hal yang berkenan bagi Tuhan untuk kita lakukan demi kemulian-Nya:

1. Menjadi Terang
Matius 5:16 (TB) Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.
Dengan menjadi terang, Bapa dimuliakan melalui hidup kita. Sebagai orang percaya yang dikenal sebagai Kristen, kita adalah Krisus Kristus kecil. Hidup yang kita jalani hendaknya menjadi terang bagi orang-orang di sekitar kita, seperti Yesus sang Terang Hidup. Pada Matius 5 ayat 14 ada berbunyi “kamu adalah terang dunia, kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Yang dimaksud di ayat ini adalah posisi menentukan fungsi. Terang kita bisa benar-benar bercahaya di depan orang ketika kita “berada di posisi yang tinggi”. Posisi bukan berarti jabatan maupun kekuasaan dan kekayaan, melainkan standar hidup orang Kristen harus berada di atas standar hidup dunia.

2. Menyelesaikan Kehendak Allah
Yohanes 17:4 (TB) Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.
Menyelesaikan pekerjaan yang Bapa berikan pada Tuhan Yesus merupakan suatu bentuk pemuliaan kepada Tuhan. Jelas tertulis dalam sejarah hidup Yesus di Alkitab, selama hidup-Nya Yesus terus menjangkau jiwa untuk mengenal Allah dan menerima keselamatan. Sebagai pengikut-Nya, tugas kita adalah melanjutkan bahkan menyelesaikan pekerjaan ini hingga kemuliaan Tuhan dinyatakan atas seluruh bumi.

3. Mempersembahkan Syukur sebagai Korban
Mazmur 50:23 (TB) Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.
Kita memuliakan Tuhan ketika kita mempersembahkan syukur sebagai korban. Sejak awal penciptaan, korban selalu identik dengan darah yang tercurah. Artinya harus ada harga yang dibayar, harus ada kemuliaan yang tetap dinyatakan meskipun dalam kondisi yang menyakitkan. Dalam setiap langkah hidup kita dan bagaimanapun kondisinya, kita harus selalu mengucap syukur sehingga ucapan syukur tersebut menjadi persembahan korban syukur yang berkenan bagi Tuhan. Dengan segala perasaan terhimpit, terbeban, dan kesedihan hati lainnya, tetap mengucap syukur untuk memuliakan Tuhan.

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

SELECT SERMON

Jangan Takut

13 November 2016 | Pdt. Agustinus Puspawiguna
SELECT SERMON

Kita sangat penting bagi Tuhan

24 April 2016 | Ev. Julia Halim
SELECT SERMON

Hari Kenaikan Yesus Kristus

5 May 2016 | Pdt. Agustinus Puspawiguna