SERMONS
Hukum yang Terutama

ON 9 JULY 2017, BY PDT. AGUSTINUS PUSPAWIGUNA

Kesudahan jaman sedang terjadi hari-hari ini. Hari-hari ini banyak negara maju melegalkan segala perbuatan zinah di negara mereka. Berbagai macam kejahatan yang tidak menyenangkan hati Tuhan dianggap hal yang perlu diterima, padahal pada nyatanya negara-negara ini adalah negara mayoritas kristen. Seringkali faktor humanisme ditinggikan untuk menerima dan memaklumi segala yang tidak berkenan kepada Tuhan. Maka dari itu jadi kristen saja tidak cukup, kita perlu memahami firman Tuhan dengan benar.

Baca Matius 22:34-40

Dua hukum inilah yang membedakan antara orang kristen dengan orang non kristen. Sebagai pengikut Kristus kita harus mengerti bahwa ayat diatas adalah rencana Tuhan bagi setiap kita. Hanya orang yang mengalami kasih Tuhan yang dapat melakukan kedua hukum itu. Dapat dikatakan kita harus mencintai Tuhan sungguh-sungguh baru kita dapat mengasihi sesama.

Seringkali kasih kita dipertanyakan saat kita tidak menerima golongan masyarakat tertentu. Kita harus mengerti kalau mengasihi Tuhan adalah yang terutama, kita dapat mengasihi Tuhan bila kita sudah mengalami kasih Tuhan dalam hidup kita.

[Matius 22:34-35] Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:

Orang saduki adalah orang yang lebih sekuler dan lebih percaya pada logika mereka. Beda dengan orang farisi yang lebih rohani, mereka percaya kebangkitan badan dan malaikat. Harusnya orang farisi senang karena dibela oleh Yesus, tapi mereka tetap menunjukkan sikap negatif karena dipenuhi kebencian kepada Yesus. Kebencian akan membuat orang tidak dapat melihat kebenaran. Jangan sampai kita memiliki hidup yang penuh dengan kebencian sehingga seperti orang farisi kita kehilangan kepekaan untuk menilai.

Segala skenario untuk mencobai Yesus berasal dari orang farisi, tapi kenapa Tuhan masih mengatakan hal yang sepertinya menguntungkan bagi orang farisi? Karena untuk Tuhan Yesus yang penting adalah meninggikan kebenaran. Kita harus hati-hati, hari-hari ini kebenaran kalah dengan hubungan. Relasi menjadi prioritas dan lebih penting daripada kebenaran. Kalau kita tidak berpegang sungguh kepada kebenaran, kita akan terjebak dalam kompromi. Malah hari-hari ini kita bisa jadi lebih mengutamakan komunitas. Bayankan saja apabila komunitas kita tidak benar beranikah kita menyuarakan hal yang berbeda? Atau sebaliknya bila komunitas yang berlawan dengan kita menyatakan hal yang benar, maukah kita menyetujuinya? Pengikut Kristus harus tetap menegakkan kebenaran. Apa jadinya kekristenan kita tanpa kebenaran? Semua akan menjadi sia-sia karena ujungnya adalah neraka.

[Matius 22:36] “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”

Orang farisi cenderung membeda-bedakan. Seperti kita yang masih juga suka membedakan dosa besar atau dosa kecil. Kalau kita mulai membedakan dosa, kita akan terjebak dengan hitung-hitungan atas kasih karunia Tuhan. Seakan-akan dosa kecil dapat ditorelansi apabila kita sudah menaati perbuatan hukum yang besar.

Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. (Yakobus 2:10)

Yang membuat kita membedakan dosa adalah konsekuensi/hukuman yang kita akan terima di hadapan manusia. Ingatlah bagi Tuhan tidak ada dosa kecil atau dosa besar.

[Matius 22:37-38] Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

Yesus mengutip kata-kata ini dari perjanjian lama, yaitu pada Ulangan 6:4-5.

6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! 6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

Kenapa Tuhan mengambil ayat 5 bukan ayat 4? Karena orang farisi ingin menekankan pada ayat yang ke 5, bagi mereka itu yang penting. Yesus tidak mementingkan hal tersebut, tapi justru Dia bicara soal kasih. Yang penting bukan hanya kenal Tuhan tapi bagaimana kita bersikap kepada Tuhan yang katanya kita kenal. Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, bahkan bukan dengan sekedarnya tapi dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi? Sudahkah kita punya sikap seperti itu?

Mari renungkan kenapa kita baik kepada orang tua kita? Bisa jadi ada orang yang baik kepada orang tuanya karena takut tidak dapat warisan, takut kualat, ataupun takut di masa depan nanti tidak dihormati oleh anaknya sendiri. Motivasi ini berpusat kepada keuntungan diri sendiri.

Ada kisah nyata yang sangat menginspirasi dan perlu jadi teladan bagi kita semua. Di suatu keluarga, seorang ayah sudah menentukan warisan bagi dua anaknya. Anak laki-laki diberikan banyak aset, sedangkan anak perempuan diberikan hanya 1 rumah. Anak perempuan dan suaminya adalah pengikut Kristus, kondisi keuangan mereka cukup sederhana bila dibandingkan dengan anak laki-laki ini memiliki status ekonomi yang lebih tinggi. Setelah ayahnya meninggal, si ibu dan anak laki-laki berusaha untuk mengambil pula rumah itu dari anak perempuan. Hal ini membuat pertengkaran besar di dalam keluarga. Sampai suatu hari suami anak perempuan ini didorong oleh roh kudus untuk merelakan saja rumah warisan itu yang lalu disetujui oleh istrinya. Mereka berdua akhirnya menghentikan pertengkaran itu dan merelakan rumah satu-satunya yang menjadi hak dan bagiannya, lalu mendatangi rumah ibunya untuk meminta maaf dan mencuci kakinya.

Inilah contoh bukti kasih yang sesungguhnya, tidak didasarkan oleh berbagai motivasi yang ujungnya demi kepentingan pribadi, tetapi kasih itu sungguh mengalir dari Tuhan Yesus lewat hidup kita. Kalau kita bisa mengasih Tuhan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi, berarti kita sudah memenuhi segala hukum Tuhan yang lainnya. Santo Agustinus berkata, “Love God, and you can do what you like.”

[Matius 22:39] Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Ayat diatas juga dikutip dari Imamat 19:18, “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.”. Roma 13:10. “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.”

Kenapa Yesus mengutip ayat tersebut? Karena Yesus tahu ayat itulah kegenapan dari hukum taurat. Lalu, sampai dimanakah batasan dari mengasihi manusia? Jawabannya ada di:

Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. (Matius 10:37)

Yang paling mengerti porsi kasih yang tepat untuk diberikan pada manusia lain adalah Tuhan sendiri. Maka dari itu Tuhan memberikan guideline untuk membagikan kasih kita kepada sesama. Bila kita dekat dengan Tuhan, Tuhan akan memberikan hikmat bagaimana kita harus mengasihi.

Kalau kita terlalu menikmati dunia kita tidak akan pernah bisa dipakai Tuhan maksimal.

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. (1 Yoh 2:15)

Kita tidak mungkin secara bersamaan mengasihi Tuhan dan mengasihi dunia. Menikmati berkat Tuhan itu boleh dilakukan, tetapi jangan sampai berlebihan. Jangan sampai kita terlalu menikmati apa yang dunia sediakan, sehingga semakin dekat hati kita untuk mengasihi dunia.

Seringkali lewat kata-kata “mengasihi sesama seperti diri sendiri”, orang mendapat pengertian bahwa kita harus mengasihi diri sendiri dulu baru mengasihi orang lain. Padahal bila kita fokus mengasihi diri sendiri itu akan menjadikan diri kita egois, dan justru semakin sulit untuk mengasihi orang lain. Tapi artikanlah sebagai: “kasihilah sesamamu manusia, karena kita sendiri ingin dikasihi”. Tuhan ingin kita melakukan terlebih dahulu tindakan kasih itu kepada orang lain.

Sekali lagi jangan kita lakukan tindakan kasih karena didasari oleh berbagai jenis ketakutan, tapi benar-benar tulus didasari oleh kasih. Hal itu hanya dapat kita lakukan bila kita hidup melekat bersama dengan Tuhan.

SELECT SERMON

Meresponi Ujian Hidup

17 January 2016 | Pdt. Lukito Budiarjo
SELECT SERMON

Jagalah Hatimu

19 July 2015 | Pdt. Harry Sudarsono