SERMONS
Jadilah Dewasa di dalam Tuhan

ON 14 JUNE 2015, BY PDT. AGUSTINUS PUSPAWIGUNA

Kualitas barang meningkat tapi belum tentu kualitas kita sebagai manusia meningkat.

Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai panca indera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat. (Ibrani 5: 12-14)

Usia gereja kita 17 tahun. Gereja bicara tentang kita semua, murid-murid Tuhan di tempat ini. Usia 17 tahun adalah usia akil balig, fase awal kedewasaan. Anak-anak Tuhan harusnya menjadi dewasa. Tanpa kedewasaan kita tidak pernah mengerti kebenaran. 1 Korintus 13: 11: Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Khotbah hari ini saya ambil dari study Lawrance Cobalt seorang pyscholog. Dia membagi tahap perkembangan moral manusia menjadi 3 tahapan besar. Yang pertama: tahap pra konvensional, ke-2: tahap konvensional, ke-3: Pasca konvensional. Masing-masing tahap terbadi 2 , jadi semuanya ada 6 tahapan. Ini mirip dengan yang tertulis dalam 1 Yoh 2: 12 – 14: Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat. Hasil tulisan Lawrance ini menjadi acuan untuk mengetahui di mana level kedewasaan kita. Kita harus mengejar level kerohanian kita sampai menjadi dewasa. Konvensional artinya hidup bermasyarakat diatur oleh hasil kesepakatan bersama mengenai baik/ buruknya suatu tindakan menurut moral. Anak-anak belum bisa membedakan baik atau buruk. Tahap pertama, pra konvensional (jenjang pertama) : kesadaran moralnya (dasar dia bertindak) adalah takut akan hukuman. Contohnya: orang beragama tapi masih percaya takhayul, orang saleh dalam beragama karena dia percaya Tuhan itu jahat dan akan menghukum dia kalau dia tidak taat. Atau dia tidak akan diberkati, tidak akan masuk sorga. Tahap pertama (jenjang ke-2 ): berbuat sesuatu karena ingin memperoleh kenikmatan sebesar-besarnya dan menghindari kerugian sebesar-besarnya. Orang melayani Tuhan karena ingin dipuji, ingin diperhatikan. Tahap konvensional (orang tua). Berusaha memenuhi harapan orang-orang di sekitar. Bila ditilik lebih dalam motivasinya adalah supaya bisa diterima dan dihargai orang lain. Ujung-ujungnya tetap diri sendiri. Jenjang ke-3: berusaha hidup lebih baik, melakukan yang baik dan benar agar diterima oleh kelompok sekelilingnya, semua pihak. Cintanya tidak lagi manipulatif. Dia mengerti bahwa dia butuh Tuhan. Tapi dia akan mengalami benturan kepentingan antara 1 kelompok dengan kelompok lainnya. Akhirnya menjadi bunglon. Orang yang mendua hati tidak akan mendapat apa-apa. Kita semua harus menjadi dewasa kalau tidak kita akan terombang-ambing. Jenjang ke-4: Dia memiliki hukum yang objektif. Dia tahu bahwa hukum itu baik dan mengikutinya. Sudah tahu tanggung jawabnya terhadap Tuhan dan sesama. Kita harus sadar bahwa Allah memiliki kehendak dan jika kita melanggarnya kita ada di dalam dosa. Pasca Konvensional (jenjang ke-5) : pusatnya, motivasinya bukan diri sendiri. Seperti kasih orang tua kepada anaknya, tanpa pamrih. Ketaatan bukan sekedar pada hukum tapi pada hakekat hukum. Level terobosan, yang penting bukan lagi dogma, tapi iman. Kasihnya bersifat universal. Kasihnya kepada Tuhan karena mengenal pribadiNya. Dia mengejar, melakukan apa yang Tuhan inginkan. Kita harus sampai ke jenjang ini, bukan sekedar melakukan kehendak Allah, tapi kehendak Allah pada zamannya seperti Daud. Bukan hanya melakukan yang baik, tapi yang sempurna. Jenjang ke-6: Level yang sunyi seperti Tuhan Yesus. Di dunia seperti Mahatma Gandhi. Dia berani mengorbankan segalanya demi kebenaran, termasuk nyawanya. Jangan merasa cukup dengan keadaan. Jangan sekedar tinggal, terus kejar Dia. Terus naik sampai seperti Tuhan Yesus sendiri.
SELECT SERMON

Jangan Kuatir

19 March 2017 | Ps. Noel Risakotta
SELECT SERMON

Menjelang Kedatangan Tuhan

6 December 2015 | Pdp. Gustav
SELECT SERMON

Segala Sesuatu Sia-sia

30 April 2017 | Ezra Elian Yonatan