SERMONS
Kasih yang Benar

ON 9 JULY 2017, BY PDT. AGUSTINUS PUSPAWIGUNA

Matius 22:37-40 (TB) Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Hari-hari ini banyak bangsa-bangsa di dunia yang melegalkan hubungan sesama jenis, bahkan memberikan kesetaraan hak bagi pasangan sesama jenis untuk mengadopsi anak dan berkeluarga layaknya pasangan normal pada umumnya. Implikasi yang terjadi dari legalnya hukum seperti ini adalah akan munculnya anak-anak yang lahir dan tumbuh di lingkungan dengan penyimpangan orientasi seksual sehingga penyimpangan tersebut lama-kelamaan akan menjadi kondisi umum yang diterima masyarakat. Selain hubungan sesama jenis, terdapat beberapa negara yang melegalkan hubungan sedarah (incest) yakni memperbolehkan secara hukum seorang anak berhubungan badan dengan saudara sekandungnya bahkan dengan bapak atau ibunya. Para kaum yang memperjuangkan legalisasi-legalisasi seperti di atas, selalu berbicara atas nama cinta dan hak asasi manusia. Dengan menganut paham humanisme, mereka memperjuangkan “cinta” yang mereka anggap sebagai suatu bentuk kebaikan universal yang tidak boleh dibatasi. Apakah demikian wujud dari kasih pada sesama yang Tuhan perintahkan dalam alkitab?

Tuhan Yesus dalam Matius 22 ayat 37-40 menyatakan bahwa hukum yang pertama adalah kasih kepada Tuhan dan yang kedua adalah kasih kepada sesama. Yakobus 2:10 mencatat “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Ini berarti hukum untuk mengasihi sesama dan untuk mengasihi Tuhuan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karenanya, dasar dari kasih kepada sesama haruslah kasih kepada Tuhan, sehingga kita tidak boleh mengasihi sesama dengan cara yang akan mendukakan hati Tuhan.

Terkait pembahasan pada bagian awal, hubungan seksual sesama jenis betul-betul tidak benar di mata Tuhan (bisa dibaca kisah Sodom dan Gomora), dan bahkan apa yang dilakukan manusia hari-hari ini mungkin jauh lebih jahat dari penduduk Sodom dan Gomora pada masa itu. Penegasan lain dapat dilihat di Matius 10 ayat 37 yang berbunyi: “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.”. Tuhan berfirman dengan jelas, bahwa kita tidak boleh mengasihi manusia dengan kasih yang amat besar sampai-sampai mengabaikan kebenaran Tuhan hanya demi menyenangkan manusia. Ini berarti kasih kepada sesama bukanlah kasih yang berujung pada kompromi atas dosa, melainkan merupakan kasih yang dari Tuhan yang mencukupkan setiap jiwa.

Kasih yang salah merupakan kasih yang tidak sejati, kasih yang bersifat sementara, yang didasarkan pada pembenaran-pembenaran dunia untuk melanggengkan dosa di muka bumi. Dunia mencintai dirinya sendiri, sehingga dunia terjebak dalam dosa dan kenikmatan yang membawa pada kebinasaan. Legalisasi dosa dengan mengatasnamakan cinta sesungguhnya menimbulkan keprihatinan yang amat dalam karena manusia sudah mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya, sehingga kasih akan Bapa tidak ada di dalam manusia (1 Yohanes 2:15). Sebagai manusia yang sudah mengenal dan merasakan kasih yang sejati dari Tuhan Yesus, kita harus menyalurkan kasih tersebut pada dunia. Apa yang kita inginkan orang lain lakukan pada kita, harus kita lakukan pada orang lain terlebih dahulu, sehingga kita melaksanakan perintah Tuhan untuk mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri ingin dikasihi (Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri). Dengan demikian, kita tetap bisa bersinar dan membawa kasih yang sejati di tengah-tengah dunia yang sudah terlena oleh wujud kasih yang salah.

Kasihilah sesama manusia dengan kasih yang dari pada Tuhan.

SELECT SERMON

Purpose Driven Life

28 June 2015 | Pdp. Frank Santosa
SELECT SERMON

Memancarkan Kemuliaan Tuhan

27 December 2015 | Pdt. Hadi Oetojo
SELECT SERMON

Hari Kenaikan Yesus Kristus

5 May 2016 | Pdt. Agustinus Puspawiguna