SERMONS
Kekristenan yang Normal

ON 23 APRIL 2017, BY PDM. BUDIYANTO GUNARSO

1 Yohanes 2:6 (TB) Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Kekristenan yang normal berarti kita yang ada di dalam Kristus memiliki kewajiban hidup seperti Yesus. Tuhan Yesus adalah teladan utama untuk memiliki kekristenan yang normal.

Bayangkan saja Coca Cola dalam umur 100 tahun lebih sudah menjangkau 200 ratus lebih negara di seluruh dunia bahkan sampai di pelosok-pelosok, alasan paling sederhana adalah karena minuman ini memiliki rasa yang enak.

Coba kita bandingkan bagaimana dengan nama Kristus yang sudah lebih dari 2000 tahun lalu tapi belum menyebar seluas Coca Cola. Kenapa hal ini terjadi? Sederhananya karena rasanya “kurang enak”, yang bukan disebabkan oleh pribadi Tuhan tapi justru karena setiap kita, anak-anak Tuhan, kurang menunjukkan pribadi Kristus dalam hidup kita.

Ciri-ciri memiliki kekristenan yang normal:

Baca Yunus 1:1-17

1. BANGUNLAH
Bila firman Tuhan berkata kepada kita “Bangunlah” berarti kita sedang tidur. Kita tertidur bisa disebabkan karena keadaan kita nyaman dan baik dalam segala hal, tapi bisa juga karena masalah yang bertubi-tubi di dalam hidup kita.

Kita bisa sangat aktif di gereja dan melakukan berbagai kegiatan ibadah, tapi di saat yang sama kita kehilangan kasih bagi Tuhan. Hal ini berarti kita lakukan kegiatan agama kita hanya berdasarkan tanggung jawab dan rutinitas, bukan karena kasih kita kepada Tuhan.

Wahyu 2:4-5 (TB) Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

Kaki dian yang dimaksudkan di sini adalah terang Tuhan yang menuntun segala kehidupan kita. Sehingga apabila kaki dian kita diambil, kita akan berjalan dalam kegelapan. Maka dari itu setiap kita harus bangun dari kenyamanan dan masalah hidup serta menjaga kasih yang mula-mula kepada Tuhan.

2. PERGILAH
Saat kita sudah menjadi orang Kristen kita tidak boleh ada di titik yang sama, kita harus bergerak. Mari terus hidup sebagai ciptaan yang baru dan berbagi kasih. Kalau hidup kita dipenuhi kasih Tuhan, setiap orang yang bertemu dengan kita akan dapat merasakan impartasi kasih Tuhan itu. Mulailah berani memperhatikan orang-orang di sekitar kita dengan berbagi kebaikan yang dapat kita berikan dalam bentuk sekecil apapun.

3. BERSERULAH
Kita harus berseru.

Amsal 18:21 (TB) Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Hidup dan mati ditentukan oleh perkataan kita. Kita harus memperkatakan terus hal yang baik bagi kehidupan kita meskipun kenyataan berkata sebaliknya.

Markus 11:22-24 (TB) Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah!
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.
Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

Apa yang kita terima, terjadi dalam hidup kita sangat erat kaitannya dengan apa yang kita percayai dan kita katakan.

4. Jangan simpan kepahitan
Saat kita menyimpan kepahitan kita pikir hanya kita yang menanggungnya, tapi itu tidak benar. Segala hal dalam hidup kita bisa hancur karena kita menyimpan kepahitan dan dengan itu hidup kita tidak maksimal dipakai Tuhan.

Mari kita menghidupi kekristenan yang normal dengan bangun dari segala kenyamanan dan masalah hidup kita, pergi keluar untuk berbagi kasih, memperkatakan firman Tuhan dalam hidup kita, dan tidak menyimpan kepahitan.

SELECT SERMON

Saksi Allah yang Hidup

21 June 2015 | Pdt. Daud Sekarmadidjaja
SELECT SERMON

Kesadaran akan Keselamatan

8 May 2016 | Pdt. Agustinus Puspawiguna
SELECT SERMON

Menang dalam Penderitaan

9 April 2017 | Pdt. Agustinus Puspawiguna