SERMONS
Keselamatan oleh Kasih Karunia

ON 23 AUGUST 2015, BY PDT. AGUSTINUS PUSPA WIGUNA

Hari ini kita akan bicara soal keselamatan, kenapa hal yang paling mendasar ini diulang sedemikian kali? Wajar saja karena karya keselamatan ini adalah tema pokok dari Alkitab kita. Hasil survey di Amerika menyatakan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak sungguh-sungguh menangkap arti dari keselamatan yang telah diterima. Hal ini terjadi karena manusia berfokus kepada kehidupan mereka di dunia, bukan kepada perkara yang di atas. Apakah ada dari kita yang mau menukar rumah kita tinggal dengan kesempatan pergi tur dengan fasilitas yang luar biasa? Sama halnya dengan kerajaan Sorga, jangan sampai kita menukar rumah kita di surga dengan kehidupan yang hanya 70-80 tahun di dunia.

Paulus dan Silas menjawab, “Percayalah kepada Tuhan Yesus! Engkau akan selamat — engkau dan semua orang yang di rumahmu!” (Kisah Para Rasul 16: 31)

Kita selamat karena kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, sekali lagi bukan karena hasil perbuatan kita. Roma 8: 23 mengatakan, manusia dibenarkan karena iman bukan karena melakukan hukum taurat. Kalau kita yakin selamat karena hal yang kita perbuat, keyakinan kita palsu. Ada 3 poin utama yang dijelaskan Pak Niko dalam pastor message bulan ini:
1. Tentang keselamatan, kasih karunia dan langkah iman.
2. Proses keselamatan.
3. Apakah sekali selamat tetap selamat.
Yang akan diperdalam pada kotbah kali ini adalah tentang poin yang pertama.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7: 21-23)

Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yohanes 6: 28-29)

Keselamatan semata-mata adalah kasih karunia Allah yang hanya dapat diterima dengan hati yang percaya. Apa yang Tuhan coba peringatkan dalam Matius 7: 21-23? Tuhan sedang bicara tidak semua orang yang mengakui Yesus sebagai Tuhan akan diselamatkan. Pada ayat 22, firman ini lebih dalam menjelaskan bahwa pada hari penghakiman setiap orang harus mempertanggung jawabkan kehidupannya secara pribadi dengan Tuhan, tidak dapat diwakilkan oleh siapapun. Lalu banyak orang itu memohon keselamatan dengan mengatakan “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?”, sebenarnya apa yang salah dari perkataan banyak orang ini? Sesungguhnya keselamatan itu bukan karena seberapa perbuatan luar biasa yang kita perbuat demi Tuhan, hal inilah yang banyak orang itu tidak sebutkan. Bahkan mereka lebih bangga terhadap hal yang mereka bisa berbuat. Seringkali kita pun membanggakan diri terhadap apa yang sudah kita perbuat dalam hidup kita, bukankah segala kelebihan kita juga adalah kasih karunia Tuhan? Mari renungkan lagi hal ini. Yesaya 64: 6 mengatakan, segala kesalehan seperti kain kotor. Kesalehan saja terlihat seperti kain kotor apalagi dosa yang begitu kecil sekalipun, tidak bisa berkenan di mata Tuhan karena Tuhan sangat suci dan kudus. Dosa itu tidak dapat ditebus oleh perbuatan baik kita, meskipun berlimpah-limpah. Kita tidak akan pernah bisa membayar keselamatan dengan apa yang kita coba perbuat. Mari kita kembali pada Matius 7 ayat 22, orang yang digambarkan di sini bisa dikatakan dalam level pelayan atau hamba Tuhan yang besar dengan berbagai mujizat yang diperbuat. Justru rasa berhak memiliki surga karena perbuatan yang telah dilakukan inilah yang tidak berkenan di mata Tuhan.
Matius 7 ayat 23, “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Hal yang begitu mengejutkan saat Tuhan berkata, Aku tidak pernah mengenal kamu, ini berarti orang tersebut tidak pernah mengalami kasih karunia Allah.
Roma 8: 29-30, Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Dalam ayat Roma di atas, ada tahap demi tahap yang dilalui orang percaya. Bila orang yang disebutkan di ayat 23 itu dari awal tidak pernah dikenal, maka sungguh ia belum menerima kasih karunia Tuhan. Bahkan Tuhan mengatakan mereka sebagai pembuat kejahatan, semua ini karena ada kesombongan dari dalam ini untuk mengklaim keselamatan itu didapat karena kita telah berbuat hal yang layak.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
(Efesus 2: 8-9)

Sekali lagi Tuhan menyatakan ketidaksukaannya terhadap orang yang memegahkan diri. Ia juga berkata bahwa setiap kita menerima kasih karunia, tapi kita harus sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Orang yang percaya akan memiliki respon yang berbeda dengan mereka yang tidak percaya, bahkan hidup kita akan berbeda dengan setiap orang yang belum mengenal Tuhan. Itulah tanda nyata dari iman kita.

Kehidupan orang beriman bukan sekedar melayani, tapi sebetulnya adalah sebuah pengabdian. Yang setia sampai pada akhirnya akan mendapatkan kemenangan.

SELECT SERMON

Mintalah dengan Iman

29 March 2015 | Pdt. Isang Tjiputra
SELECT SERMON

Belajar dari Kisah Simson

5 November 2017 | Harry Yusuf
SELECT SERMON

Bijak Menghadapi Teknologi

4 September 2016 | Pdp. Andy Auric