SERMONS
Memasuki Bulan Pembaharuan

ON 26 MARCH 2017, BY PS. BRIGITTA GRACE PUNIA

Usahakanlah untuk mengerti kehendak Allah. Tuhan adalah arsitektur agung, semua yang diciptakanNya memiliki tujuan ilahi. Tuhan itu memiliki pemikiran yang sempurna, firman Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia dan rancanganNya kekal. Dalam hal ini termasuk rancangan waktu dan musim.

Sebentar lagi kita akan masuk bulan pertama kalender Ibrani, bulan Nisan. Kenapa Tuhan menjadikan bulan pertama ini ada di musim semi, di bulan dimana Paskah dirayakan? Musim semi dipercaya jadi saat pembaharuan bagi semua ciptaan Tuhan dan pertumbuhan yang baru. Orang Ibrani menjaga agar bulan pertama mereka tetap berada di musim semi.

Pada saat Israel masih menjadi budak, Tuhan menetapkan Paskah menjadi sebuah permulaan baru bagi Israel supaya bangsa ini bisa masuk dalam tujuan ilahi. Permulaan yang baru ini didasari oleh darah Anak Domba. Darah Yesus tidak pernah gagal dan kuasaNya masih nyata.

Setiap kali kita memasuki pembaharuan atau musim yang baru dalam segala bidang hidup kita, kita harus percaya bahwq Tuhan Yesus menyertai kita.

Yesaya 43:19 (TB) Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.

Isaiah 43:19 (WEB) Behold, I will do a new thing. It springs out now. Don’t you know it? I will even make a way in the wilderness, and rivers in the desert.

Semua permulaan yang baru adalah daripada Tuhan Yesus. Bagi orang Ibrani, tanggal 1 nanti yang jatuh di 28 Maret adalah tahun baru yaitu tahun raja-raja. Bulan pertama ini diperuntukan bagi suku Yehuda.

Paskah adalah permulaan lahir baru setiap daripada kita dan kita langsung masuk ke dalam warga kerajaan. Kita bisa menerima warisan dari suku Yehuda ini tapi harus kita hidupi, kita harus jadi lebih dari pemenang seperti singa dan rajawali.

Untuk menjadi bagian dari kerajaan Allah, kita harus menerima didikan. Tentu saja bukan didikan yang biasa.

Arti kata Yehuda berarti adalah ‘memuji Tuhan’. Nama Yehuda juga berasal dari kata Yadah yang berarti menggunakan tangan untuk melempar batu atau panah. Sehingga DNA pujian penyembahan ini harusnya secara otomatis hidup di dalam kita yang sudah lahir baru. Pada saat kita memuji Tuhan, kita juga sedang melakukan peperangan rohani. Pujian kita kepada Tuhan juga merupakan serangan bagi musuh-musuh Tuhan, iblis sangat tidak menyukai saat kita memuji Tuhan. Kita harus memulai segala sesuatu dengan pujian penyembahan ini.

2 Samuel 11:1 (TB) Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem.

Dalam kita memasuki permulaan baru dalam segala hal, pasti ada peperangan di dalamNya. Tapi kita jangan takut, karena Tuhan beserta dengan kita. Kita disertai dengan perjanjian darah dan kuasa roh kudus. Apabila kita menginginkan ada permulaan baru yang baik, kita harus memuji menyembah Tuhan. Kalau kita tidak ikut berperang akan berbahaya seperti Daud yang akhirnya jatuh dengan Betsheba.

Setiap kita adalah anggota kerajaan, kita harus memperhatikan ucapan kita karena ucapan itu memiliki kuasa dan tidak kembali dengan sia-sia. Seperti pada saat permulaan penciptaan, di dalam kegelapan ada roh Tuhan melayang-layang. Lalu Tuhan berfirman “Jadilah terang”, maka terang itu jadi. Sama halnya seperti Jakarta yang saat ini gelap, dengan pujian penyembahan kita roh Tuhan akan melingkupi kota kita dan pada saat kita berfirman lewat doa cahaya Tuhan akan terbit.

Kita harus stop membicarakan kekecewaan kita karena apapun yang kita ucapkan dapat mengubahkan atmosfir di kota dan bangsa kita. Kita harus sering memuji menyembah Tuhan dalam setiap waktu dan lepaskan firman bagi kota dan bangsa kita.

SELECT SERMON

Secret Place

24 September 2017 | Deborah Angelea
SELECT SERMON

Fondasi Iman yang Benar

3 May 2015 | Ps. Timothy Parengkuan
SELECT SERMON

Saksi Allah yang Hidup

21 June 2015 | Pdt. Daud Sekarmadidjaja