SERMONS
Memulihkan Trauma

ON 30 AUGUST 2015, BY PS. TIMOTHY DAN CAROLYN

Bagaimana bisa keluar dari trauma atau pengalaman buruk yang menghantui kita sampai saat ini?

Apakah trauma itu? Trauma adalah luka yang sangat menyakitkan atau dapat dikatakan juga shok karena datangnya tiba-tiba dan sangat menyakitkan hati kita. Trauma yang tidak terselesaikan menjadi dampak pada kehidupan kita. Orang tua yang mengalami trauma akan membangun tembok antara mereka dan anak-anak mereka. Mereka merasa tidak aman dengan segala kondisi atau keadaan yang mereka hadapi. Mereka tidak peka dengan trauma yang dihadapi anak-anak mereka. Jadi penting sekali untuk menyelesaikan setiap trauma dalam hidup kita. Beberapa hal yang akan terjadi bila kita tidak bisa mengendalikan trauma:
1. Tidak bisa mengendalikan emosi.
2. Tidak bisa mengusai pikirannya.
3. Ruang geraknya sempit.
4. Tidak bisa menang dan dikuasai stress oleh hidupnya.
5. Hidupnya tidak bisa melihat kedepan dan akan menghindar dari perasaan-perasaan yang sulit.
Seperti tokoh Victor Frankl yang mengalami masa-masa berat. Kata Victor Frankl, “Jika kamu tidak bisa lagi mengubah situasi keadaan disekitar kamu, kamu dapat berubah situasi yang ada didalam kamu.” Dunia yang kita tinggal ini bukan dunia yang sempurna, dunia ini sudah jatuh di dalam dosa. Oleh sebab itu kita harus mengetahui konsep agar bisa lepas dari trauma: 1. Konsep tentang Bapa
Banyak orang berpikir kalau Allah itu adalah Allah yang buruk dan kejam. Dalam Yakobus 1:16-17, setiap anugrah yang sempurna dan baik datang dari Bapa. Itu berarti segala yang buruk datangnya bukan dari Bapa. Kalaupun Tuhan ijinkan sesuatu yang tidak baik dalam hidup kita, itu karena Tuhan punya maksud dan tujuan. Seperti Yusuf yang mengalami trauma dalam hidupnya dalam Kejadian 50:20 dan Yusuf mampu melihat rencana Tuhan dibalik segala pengalaman buruk yang dia alami. Walaupun Yusuf mengalami trauma-trauma tapi dia mengerti dan memahami bahwa Allah berjalan besertanya dan dalam Kejadian 37 juga tertulis bahwa Allah benar menyertai Yusuf. Kita harus percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita ketika dia ijinkan kita masuk dalam pengalaman yang tidak baik.
2. Mengampunilah
Yang pertama yang harus kita ampuni adalah diri kita sendiri. Dalam Roma 8:1-2, kita belajar bahwa tidak ada lagi penghukuman dalam pribadi setiap orang yang percaya kepada Kristus. Kita belajar dari Petrus yang menyangkal Yesus 3x saat Yesus disalibkan. Dan ada satu pribadi lagi ynag menjual Yesus yaitu Yudas. Tetapi apa bedanya Yudas dan Petrus? Petrus mengampuni dirinya sendiri dan dipakai Tuhan luar biasa menjadi rasul yang menyebarkan injil Kristus bahkan dia mati disalib terbalik untuk mempertahankan kebenaran firman Tuhan. Sedangkan Yudas tidak dapat memaafkan dirinya sendiri, bahkan dia mati dengan menggantung dirinya. Bagaimana cara mengampuni diri sendiri? Lewat saat teduh, buka hati disitu Tuhan berbicara kepada setiap pribadi kita. Setelah itu ampuni orang-orang yang menyakitimu. Jika berat untuk kita mengampuni orang itu, pandanglah salib Kristus karena Dia pribadi yang mau mati bagi setiap kita untuk memberi keselamatan bagi kita. Kalau hidupmu mau dibebaskan dari dosa apapun, ampuni hatimu dan ampuni orang yang menyakiti hatimu.
3. Kita perlu memiliki sahabat yang berempati
Kita perlu memiliki komunitas agape agar dia bisa berbagi cerita dan bisa dipulihkan. Karena orang-orang yang dalam kondisi yang traumatis, mereka butuh didukung bukan untuk dihakimi dalam Amsal 17:17.
4. Intim dengan Bapa
Tempat satu-satunya saat anda mengalami tekanan adalah hadirat Allah, intim dengan Bapa. Dalam Mazmur 3:1-9 menceritakan raja Daud yang ketakutan dikejar-kejar oleh anaknya sendiri Absalom. Tempat pelarian raja Daud saat itu hanya Allah sendiri. Keintiman dengan Tuhan banyak hal yang Tuhan bukakan, ada hal baru yang Tuhan beri setiap saat. Karena perubahan berubah dari diri sendiri akan mengubahkan orang lain. Intim dengan Tuhan membuat kita mengerti kebenaran firman Tuhan yang mengubahkan hal-hal buruk menjadi baik. Tuhan kita adalah Tuhan yang luar biasa bukan? Dia tidak pernah ingkar janji. Tidak ada hal yang mustahil dan 1 hal yang harus menjadi prinsip, jangan pernah menjelekkan pasangan kita di depan anak kita.
5. Hadapi ketakutan anda
Jangan lari dari ketakukan yang kita alami. Kalau kita mau hidup kita maksimal, kalau kita mau menikmati berkat-berkat di tanah perjanjian maka kita harus selesaikan trauma-trauma kita dimasa lalu, jangan lari dari trauma tapi selesaikan itu bersama Tuhan. Karena Yesus telah mati di kayu salib dan mengalami trauma yang sungguh luar biasa hanya untuk menebus setiap dari kita.
SELECT SERMON

Kebahagiaan yang Sejati

31 January 2016 | Pdp. Ricky Djaja
SELECT SERMON

Anak Muda Berkarakter Kristus

15 October 2017 | Budiyanto Gunarso
SELECT SERMON

Kasih yang Benar

9 July 2017 | Pdt. Agustinus Puspawiguna