SERMONS
Menerima Janji Allah

ON 16 APRIL 2017, BY PS. HARRY SUDARMA

Saat Tuhan bangkit, kuasanya mematahkan maut. Maut tidak berkuasa lagi atas dunia ini dan setiap kita diangkat menjadi bangsa yang terpilih.
1 Petrus 2:9 (TB) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib

Kemenangan Kristus adalah kemenangan kita semua. Di dalam Tuhan kemenangan itu adalah hal yang pasti. Tidak hanya menang, tapi juga banyak janji Tuhan yang disediakan bagi setiap kita yang percaya kepadaNya. Beberapa janji yang Tuhan sediakan bagi kita:

(Ulangan 28:13) TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,

(Yosua 1:5) Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.

(Matius 28:20b) Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Begitu banyak kebaikan yang Tuhan janjikan, tapi kenapa banyak anak-anak Tuhan yang tidak menerima janji-janji Tuhan? Banyak orang Kristen yang jadi ekor, ataupun yang tidak menang di dalam hidupnya. Padahal janji Tuhan adalah iya dan amin, tidak mungkin janji itu tidak digenapi. Janji Tuhan adalah sesuatu yang pasti, absolut dan mutlak.

Bagaimana menjadi pemilik janji Allah?

Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. (Yosua 1:6-7)

Sama halnya dengan apa yang Tuhan sampaikan kepada Yosua, kita harus bertindak hati-hati sesuai dengan firman Tuhan. Semua jawaban untuk menjadikan kita menang dan mearih janji Tuhan ada di dalam alkitab. Oleh karena itu kita perlu merenungkan sungguh-sungguh seberapa kita yang tahu mengenai alkitab?

Bagaimana supaya kita dapat hidup beruntung dalam segala apa yang kita lakukan? Jangan menyimpang ke kanan dan ke kiri, karena kita tahu bahwa jalan Tuhan itu adalah jalan yang sempit bukan jalan yang lebar. Kalau kita tidak bertindak hati-hati akan gampang sekali untuk keluar dari jalan Tuhan.

Tetap berada di jalan Tuhan adalah kunci untuk meraih janji-janjiNya. Jalan-jalan Tuhan itu secara lengkap disampaikan di dalam alkitab, maka kita perlu merefleksikan berapa lama kita meluangkan waktu untuk membaca alkitab dalam keseharian kita? Membaca alkitab seminggu sekali tidaklah cukup untuk menjaga kita dalam jalan Tuhan yang sempit itu. Maka kita harus sungguh-sungguh menyediakan waktu untuk membaca firman Tuhan dan melakukannya setiap hari.

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (1 Timotius 4:12)

Paulus meminta Timotius untuk menjadi teladan. Sama halnya berlaku bagi setiap kita, kalau kita setia di jalan Tuhan itu akan terpancar dalam perkataan, tingkah laku, kesetiaan dan kesucian kita. Janji Tuhan tidak mungkin berubah, kalau kita tidak ada di jalan Tuhan kita tidak mungkin berhasil. Apakah dalam menjalani hidupmu ini kita bereaksi atau beraksi? Bereaksi berarti kita menanggapi aksi yang datang ke diri kita secara spontan dan seringkali berhubungan dengan tindakan dosa. Ataukah dalam menghadapi semua aksi/masalah di dalam hidup kita, kita memutuskan untuk memiliki pendirian dan beraksi sesuai dengan firman Tuhan?

Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. (Yosua 1:8)

Marilah setiap kita menjadi pelaku firman, tapi tidak berhenti sampai di situ. Kita juga dituntut untuk memperkatakan dalam artian mengajarkan firman ini kepada mereka yang belum tahu. Ajarkanlah dengan kasih, bukan dengan cara yang keras. Bila kita lebih rohani, kita harus membagikan pengajaran firman Tuhan. Merenungkan firman Tuhan siang dan malam maksudnya adalah setiap hal yang kita lalukan sepanjang hari diatur oleh firman Tuhan. Kalau hidup kita diatur oleh roh kudus, kita pasti dapat menjaga segala perkataan dan tindakan kita.

Perlu juga kita mengingat bahwa Tuhan datang untuk melayani, bukan dilayani. Apakah kita sebagai pengikut Kristus, sudah melayani? Atau kita masih hanya ingin dilayani?

Janji Tuhan yang diberikan kepada Yosua itu berlaku bagi setiap kita, tidak ada yang berbeda dari dahulu sampai sekarang. Yang berbeda adalah bagaimana kita meresponi firman tersebut. Janji Tuhan ada syaratnya, misalnya seperti ayat berikut:
Ulangan 28:13-14 (TB) TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,

Bukan sekedar melakukan firman sesekali, tapi hidup di dalam firman. Tidak ada kuasa apapun yang dapat menghentikan kita menjadi kepala, asalkan kita setia pada firmanNya. Keputusannya bukan di Tuhan, tapi ada di tangan setiap kita.

Untuk menerima janji Allah, kita harus bertindak hati-hati untuk tetap berada di jalan Tuhan. Jalan Tuhan ditunjukkan lewat firmanNya, maka kita harus membaca firman Tuhan dan jadi pelaku-pelaku firman yang setia.

SELECT SERMON

Bijak Menghadapi Teknologi

4 September 2016 | Pdp. Andy Auric
SELECT SERMON

Ishak, Kesetiaan Janji Tuhan

4 October 2015 | Pdm. Himawan Wongso
SELECT SERMON

Hari Kenaikan Yesus Kristus

5 May 2016 | Pdt. Agustinus Puspawiguna