SERMONS
Mengalami Kuasa Doa

ON 23 JULY 2017, BY PDT. BENNY GUNAWAN

Yakobus 5:15-18 – Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.
Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.

Setiap kita adalah orang-orang yang sudah dibenarkan oleh darah Yesus, maka doa yang kita naikan bisa merubahkan segala sesuatu. Ketahuilah tidak ada orang kristen yang dipakai dengan biasa-biasa. Tuhan ingin mencurahkan urapannya kepada setiap orang, tidak ada pembeda antara jemaat dengan pengerja bahkan dengan gembala. Yang membedakan adalah bagaimana respon hati kita terhadap rencana Tuhan di dalam hidup kita.

Seperti Elia yang adalah sama dengan manusia biasa, dia sanggup mengubahkan situasi bangsa Israel yang saat itu mengalami kekeringan yang panjang. Doa kita itu sanggup mengubahkan suatu bangsa. Kalau kita mengikuti Tuhan Yesus tapi hanya pasrah dan untung-untungan saja, kita sesungguhnya telah mengalami kerugian besar. Hidup kita dari hari ke hari harus terus naik di dalam Tuhan. Terutama karena saat ini adalah waktu pentakosta, Tuhan berjanji 5 generasi akan dipakai dengan luar biasa. Pertanyaannya adalah apakah kita mau dipakai oleh Tuhan?

Kalau kita berkaca pada situasi bangsa Israel saat itu, dimana hujan tidak kunjung turun dan akibatnya adalah menghambat penuaian. Bangsa Israel mengalami masalah ekonomi karena permasalahan ini. Sama halnya dengan setiap kita, seringkali permasalahan yang pertama menimpa kita adalah masalah ekonomi. Dari masalah itu jiwa kita juga ikut menjadi sakit dan mempengaruhi hubungan kita dengan sesama.

Apa yang dapat membuat doa kita besar kuasanya?

1. Jangan berlaku timpang

1 Raja-raja 18:21 – Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.” Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah kata pun.

Jangan sampai kita sebagai orang Kristen cepat puas dengan kondisi rohani kita, lalu setelah kita mengalami stagnasi. Padahal seharusnya pribadi kita selalu meningkat menjadi lebih baik lagi hari demi hari. Tidak mungkin kita tidak mengalami perubahan karena firman Tuhan belum tentu cocok dengan keinginan kita, sehingga kita selalu harus mau belajar untuk menurutinya.

Bagaimana cara kita tidak berlaku timpang dan bercabang hati? Kita harus membaca alkitab setiap hari dan melakukan firman Tuhan. Tidak berlaku timpang dan bercabang hati juga berarti percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan.

Kesaksian singkat dari Pdt. Benny Gunawan saat beliau diproses di soal keuangan selama 6 tahun. Tahun demi tahun dilalui dengan doa dan pengharapan bahwa keluarga beliau akan lepas dari kemiskinan, tapi pertolongan Tuhan tidak kunjung datang. Sehingga setiap kali uang habis, beliau harus menjual perhiasan emas yang dimiliki istrinya. Sampai suatu hari Tuhan menegur lewat perantara roh kudus dan membukakan kepadanya bahwa selama ini beliau tidak benar-benar beriman pada penyertaan Tuhan. Beliau lebih percaya kepada perhiasaan yang nyatanya apabila dijual langsung dapat mendatangkan uang. Mulai dari saat itu beliau tidak lagi menjual perhiasaan istrinya dan betapa ajaib Tuhan menyertai keluarganya selalu berkecukupan bahkan berlimpah sampai hari ini.

Bacalah alkitab dan lakukan firman Tuhan sehingga kita mengalami perubahan di dalam hidup kita. Itu akan membuat doa kita berkuasa.

2. Memperbaiki mezbah Tuhan.

Perbaiki kehidupan doa kita, seringkali pada saat kita mengalami masalah. Kita jadi malas untuk sungguh-sungguh berdoa, atau kita hanya berdoa yang seadanya saja.

Dalam 1 Raja-Raja pasal 18, kita dapat membaca cerita mengenai Elia menantang nabi-nabi Baal karena Tuhan ingin mendatangkan hujan bagi bangsa Israel. Yang bangsa Israel butuhkan saat itu adalah hujan, tetapi kenapa Elia menantang nabi Baal dan meminta api Tuhan turun? Hal ini perlu kita renungkan di dalam hidup kita. Seringkali saat kita menemui masalah, kita mencari berkat atau dalam konteks bangsa Israel kita mencari “hujan”, tapi tidak mencari sumber berkat yang ada Tuhan Yesus sendiri. Kita berdoa agar masalah-masalah kita selesai tapi lupa datang kepada Tuhan untuk mencari hadiratNya. Api Tuhan yang turun bicara soal perjumpaan dan hadirat Tuhan, itulah yang paling penting karena pertemuan dengan Tuhan akan mengubahkan dan memulihkan.

Bagaimana supaya bangsa Israel bisa berjumpa dengan Tuhan? Maka mezbah Tuhan diperbaiki oleh Elia, yang menjadi simbol diperbaikinya penyembahan di dalam bangsa Israel. Penyembahan bicara soal hati, apakah dalam segala sesuatu hati kita masih tertuju kepada Tuhan.

Yesaya 59:1-3 – Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;
tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.
Sebab tanganmu cemar oleh darah dan jarimu oleh kejahatan; mulutmu mengucapkan dusta, lidahmu menyebut-nyebut kecurangan.

Mari sungguh-sungguh dengan Tuhan, jadi orang yang haus dan lapar akan Dia. Berlaku setia pada jalanNya dan memperbaiki penyembahan kita, karena di hari-hari terakhir ini Tuhan ingin setiap kita mendekat kepadaNya. Dan kuasa doa yang mengubahkan itu akan mengikuti hidup kita senantiasa.

SELECT SERMON

Kegerakan Anak Muda

3 September 2017 | Pdm. Himawan Wongso
SELECT SERMON

Hidup Tetapi Mati

28 May 2017 | Pdt. Audy Rochadi
SELECT SERMON

Uraian Kotbah Pdt. Ir Niko Njotorahardjo

12 July 2015 | Pdt. Agustinus Puspawiguna