SERMONS
Meresponi Ujian Hidup

ON 17 JANUARY 2016, BY PDT. LUKITO BUDIARJO

Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.(1 Korintus 10: 12-13)

Orang yang menyangka dirinya teguh harus berhati-hati karena biasanya orang seperti ini tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Bukan berarti kita mengasihani diri kita dan menjadi lemah, tapi justru saat kita bergantung pada Tuhan maka kekuatan akan kita dapatkan. Di ayat berikutnya mengingatkan bahwa Tuhan memberi jalan keluar kepada setiap masalah kita dengan membuat kita dapat menanggung setiap masalah itu, bukan menghindarinya.

Setiap masalah yang Tuhan ijinkan menjadi ujian atau pencobaan dalam hidup kita akan mengantarkan kita untuk naik kelas dalam kehidupan. Ujian dan pencobaan memiliki asal kata yang sama, artinya adalah hal yang tidak diharapkan untuk terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana kita bereaksi terhadap ujian tersebut, bila kita memberi respon yang benar maka setiap ujian tidak akan menjatuhkan kita.

Kita akan belajar untuk meresponi ujian lewat 2 tokoh yang sangat terkenal di dunia, yaitu Billy Graham dan Abraham Lincoln. Billy Graham menghadapi salah satu ujian dalam hidupnya pada saat umurnya 18 tahun, ia menyukai seorang perempuan dan melamarnya sebagai tunangan. Tanpa alasan yang jelas di tengah-tengah hubungan mereka, perempuan ini pun memutuskan dia dan meninggalkannya. Banyak anak muda jaman sekarang yang membunuh dirinya pada saat meresponi hal seperti ini. Masa-masa itu juga adalah masa yang sulit untuk Billy Graham, tapi justru Billy merespon dengan perenungan yang membuat dia mengerti bahwa kehidupannya tidak dapat digantungkan kepada manusia lain. Hanya pada Tuhan saja Billy mempercayakan seluruh hidupnya sejak saat itu.

Kekristenan kita tidak diukur dari aksi yang dilakukan, tapi bagaimana kita memberikan reaksi pada setiap hal. Tokoh yang kedua adalah Abraham Lincoln, dia memiliki masa lalu yang kelam. Ibunya meninggal di usianya yang 9 tahun, ayahnya menikah lagi dan dikarunikan 3 orang anak. Pada usia 19 tahun, kakak perempuan satu-satunya meninggal. Abraham Lincoln memiliki hubungan yang sangat buruk dengan ayahnya, bahkan sampai ayahnya meninggal sekalipun ia tidak mau kembali ke rumah. Pada umumnya, anak lelaki yang hubungannya tidak baik dengan ayahnya akan menjadi emosional dan sensitif terhadap kritik. Sehingga begitu banyak kegagalan yang dialami Abraham Lincoln, sebelum dia naik ke posisi presiden Amerika. Suatu kali Lincoln menyadari kelemahannya dalam hal ini, sehingga ia melakukan teknik penataan diri yang dapat melembutkan sisi tajamnya. Misalnya saja pada saat ada orang memberi kritik, dia tidak lagi membalaskan secara langsung dengan kemarahan. Lincoln belajar untuk memendamnya dan mencurahkan kemarahannya di atas kertas saat dia kembali ke rumah. Setelah itu ia membuang kemarahannya bersamaan dengan kertas-kertas yang sudah dituliskannya. Dalam kehidupan ini kita juga harus menemukan cara yang Tuhan perkenankan untuk membawa kita semakin bijak menyikapi segala masalah.

Ada satu tokoh lagi yang mungkin tidak sering kita dengar namanya, yaitu Jan Koum. Jan Koum berasal dari Ukraina dan pergi mengadu nasib di Amerika, ia mengalami 1 tahun yang sulit karena tidak mudah mendapat pekerjaan. Di masa sulitnya, ibunya mengalami sakit kanker dan akhirnya meninggal. Akan tetapi Jan Koum tidak menyerah untuk berusaha, dia mempelajari programming secara otodidak. Ia melamar di Google dan ditolak, lalu ia diterima di Yahoo. Setelah itu dengan partner-nya, Jan Koum membuat aplikasi Whatsapp yang saat ini memiliki 450 juta pengguna seluruh dunia dan dibeli oleh Facebook seharga 266 triliun. Musibah yang sesungguhnya bukanlah masalah yang datang dalam hidup kita, tapi bagaimana cara kita meresponnya.

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, bereaksilah dengan cara yang benar karena hal itu akan merubah hidup kita menjadi manusia yang berkualitas, naik lebih tinggi lagi di dalam Tuhan.

SELECT SERMON

Tujuan Tuhan Yesus Naik ke Sorga

24 May 2015 | Pdm. Timothy Abraham
SELECT SERMON

Doa yang Mengubahkan

16 August 2015 | Pdm. Christianto Silitonga
SELECT SERMON

Hari Kenaikan Yesus Kristus

5 May 2016 | Pdt. Agustinus Puspawiguna