SERMONS
Motivasi yang Benar

ON 20 AUGUST 2017, BY RICKY DJAJA

1 Timotius 6:6 (TB) Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar”

Alkitab mencatat, ibadah yang dijalani dengan kecukupan akan mendatangkan keuntungan yang besar. Kecukupan ini berkaitan dengan terpenuhinya suatu tujuan yang memang kita miliki sebagai motivasi kita saat beribadah. Karena kecukupan akan memberi keuntungan, maka dapat dikatakan bahwa ketidakcukupan akan memberi kerugian besar. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui, kecukupan macam apa yang setiap kita cari saat datang ke ibadah. Motivasi kita untuk beribadah secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tipe:
1. Seperti datang ke bioskop
Beberapa dari kita datang beribadah dengan niatan untuk menikmati suatu pertunjukan. Ketika datang dalam suatu ibadah, kita mengharapkan suatu pertunjukan yang menarik: sajian musik yang memukau, khotbah yang menghibur, dekorasi yang menarik, ruangan yang nyaman, dan sejenisnya. Hal ini bukanlah hal yang salah karena suatu ibadah memang harus dinikmati. Tetapi, mari selidiki lebih dalam: apakah cukup bagi kita untuk hanya duduk dan menikmati ibadah, kemudian pulang begitu saja?

2. Seperti datang ke pom bensin
Motivasi ini dianalogikan seperti kendaraan yang berhenti di pom bensin. Beberapa dari kita datang ke ibadah dengan mengharapkan suatu pengisian kembali dan tenaga yang baru setelah seminggu berkutat dengan hidup kita masing-masing. Kita berharap setelah selesai ibadah kita bisa mendapatkan kekuatan yang baru untuk dapat menjalani seminggu yang akan datang sebelum kemudian bisa mengisi diri kembali pada hari minggu berikutnya. Motivasi ini juga tidak salah, memang salah satu hasil yang akan diperoleh setelah ibadah adalah kembalinya kobaran api dalam roh kita sehingga kita tidak menjadi lesu dalam memuliakan Tuhan melalui kehidupan kita sehari-hari. Tetapi, lebih dari pada pengisian yang kita harapakan, semestinya ada tujuan lain yang lebih ilahi, yang lebih mulia dari pada sekadar menyambung napas sendiri.

3. Seperti datang ke supermarket
Ketika berbelanja ke supermarket, kita biasa membawa daftar berisi apa-apa saja yang perlu dibeli di supermarket. Demikianlah kira-kira motivasi beberapa dari kita untuk datang beribadah: kita membawa banyak hal yang ingin kita mintakan pada Tuhan dan kita harapkan dapat kita terima saat kita beribadah. Motivasi ini pun juga tidak salah, karena memang Firman Tuhan berkata setiap yang meminta akan diberi. Namun, kembali perlu direnungkan, apakah kita sudah merasa cukup ketika sudah memperoleh semua kebutuhan pribadi kita dari ibadah tersebut?

Terlepas dari tipe manakah kita saat beribadah, statement awal tetap berlaku: ibadah yang disertai dengan rasa cukup akan memberi keuntungan besar. Apakah sepatutnya kita merasa cukup ketika motivasi-motivasi di atas dapat kita penuhi dalam ibadah?

Rasa cukup yang diperoleh dari tujuan-tujuan di atas sesungguhnya belum paralel dengan kecukupan yang bisa kita peroleh dari ibadah yang sejati. Untuk memahami kecukupan yang sejati, kita harus mundur selangkah dan melihat pada definisi dari ibadah itu sendiri. Dalam Roma 12:1 ada tertulis: “Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. Tertulis juga dalam Yakobus 1:27: “Ibadah yang murni, yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” Ibadah yang sejati adalah ibadah yang mempersembahkan tubuh kita bagi Allah, dan ibadah yang murni adalah tindakan nyata kita untuk menjauhkan diri dari kecemaran dunia. Dari dua pengertian tersebut, dapat dikatakan ibadah dan motivasi ibadah yang benar adalah hidup yang mempraktikan Firman Tuhan supaya semakin serupa dengan Kristus dan menjadi orang yang berbeda.

Ibadah yang kita hadiri setiap minggu seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk terus mengembangkan karakter Kristus dalam hidup kita. Dan rasa cukup dari ibadah tersebut yang dapat kita rasakan adalah berupa komitmen untuk terus bertransformasi dalam keserupaan dengan Kristus. Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:6). Kehidupan Kristus selalu berfokus pada pewartaan kerajaan Allah dan penjangkauan jiwa-jiwa. Mau menjadi serupa dengan Kristus berarti mau memiliki kerinduan yang sama dengan Kristus. Kuasa dan tanda heran akan menyertai setiap kita yang rindu untuk meneruskan pekerjaan Yesus dalam hidup kita (Markus 16:17-18). Hidup yang seperti inilah yang merupakan ibadah yang benar (hidup dalam Kristus), dengan motivasi yang benar (meneruskan pekerjaan Kristus) dan akan mendatangkan rasa cukup yang memberi keuntungan.

Persembahkanlah hidupmu sebagai ibadah yang sejati

SELECT SERMON

Menang dalam Penderitaan

9 April 2017 | Pdt. Agustinus Puspawiguna
SELECT SERMON

Mujizat oleh Kematian

20 September 2015 | Pdm. Budijanto Gunarso
SELECT SERMON

Tujuan Tuhan Yesus Naik ke Sorga

24 May 2015 | Pdm. Timothy Abraham