SERMONS
Mujizat oleh Kematian

ON 20 SEPTEMBER 2015, BY PDM. BUDIJANTO GUNARSO

Perenungan singkat: Seberapa kita merindukan hadirat Tuhan? Seberapa spesial kita melihat hari Minggu dan merindu-rindukannya setiap saat? Berapa besar kerinduan yang kita miliki untuk bertemu pribadi dengan Tuhan di rumahnya?

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4: 7)

Apa arti kehidupan buat setiap kita? Firman Tuhan berkata hidup adalah pertandingan, mari kita ibaratkan kehidupan ini sebagai pertandingan lari. Tentu saja kita tidak bicara tentang pertandingan lari sprint yang secepat-cepatnya mencapai garis finish, tapi hidup ini adalah lari maraton. Maraton memiliki jarak lari yang begitu panjang, sampai 42 km, maka dari itu diperlukan untuk mengatur ritme lari, pernafasan dan langkah demi langkah yang kita ambil agar kita bisa bertahan tetap kuat sampai garis akhir. Pengaturan ritme ini bicara soal prioritas dalam hidup, yang paling utama adalah Tuhan, lalu keluarga, pekerjaan serta pelayanan. Mulai dari kilometer pertama, pertandingan masih terasa ringan bahkan berkat Tuhan mengalir dengan luar biasa dalam hidup kekristenan kita. Seiring berjalannya waktu, mencapai kilometer yang selanjutnya begitu banyak tantangan yang kita hadapi, entah itu ditinggalkan oleh orang-orang terdekat, kehilangan pekerjaan, mengalami sakit penyakit, ditimpa kesulitan keuangan, dan banyak lagi. Pada lari maraton dikenal satu fase bernama “titik kematian”, yaitu pada kilometer 36. Di titik ini, pelari merasa dehidrasi dan mudah untuk putus asa. Seringkali kita menemui “titik kematian” di dalam hidup kekristenan kita, ditandai dengan berbagai masalah berat yang seakan-akan tidak ada jalan keluar bahkan tidak ada pertolongan Tuhan. Ada satu penghiburan lewat analogi lari maraton ini, dalam lari maraton dikenal juga fase “titik kehidupan” di kilometer 37. Kilometer 37 tidaklah jauh dari kilometer 36, di “titik kehidupan” itu Tuhan Yesus berdiri dan menanti kita dengan tangan terbuka untuk memberikan mujizat serta berkatNya. Sekalipun seisi dunia meninggalkan kita, Tuhan tidak pernah melakukannya. Dalam perjalanan kehidupan kita, kita sangat memerlukan mujizat Allah. Kita perlu Tuhan lebih daripada segala sesuatu yang lainnya.

Baca: Yohanes 11: 38-44

Lewat ayat di atas, kita akan belajar bagaimana menikmati mujizat dan janji-janji Allah yang sangat kita butuhkan untuk melewati pertandingan sampai akhir. Beberapa hal yang perlu kita perhatikan dari ayat mengenai mujizat kebangkitan Lazarus tersebut:
1. Yohanes 11 ayat 38: Ada kalanya kita diperhadapkan dengan “kuburan” dalam hidup kita, mungkin ekonomi kita yang mati, pekerjaan kita, atau hubungan kita dengan orang-orang terdekat. Kalau kita mengalami hal itu, jangan cepat-cepat menyerah dan berputus asa. Percayalah tidak akan ada kebangkitan tanpa kematian terlebih dahulu. Kematian di dalam hidup kita ini hanya sementara, dibaliknya ada kehidupan. Tuhan Yesus adalah Allah yang lebih daripada sanggup menyelesaikan segala masalah di dalam hidup kita.
2. Yohanes 11 ayat 39: Saat Yesus berkata untuk mengangkat batu yang di depan kubur itu, Dia tahu kita sanggup mengangkatnya. Bukan hanya dengan kekuatan sendiri, tapi lewat wadah komunitas yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Kita butuh sahabat-sahabat rohani yang dapat membantu dan mendukung kita dalam melalui berbagai masalah yang kita alami. Seperti pada Yohanes 11 ayat 41 dikatakan, “Maka MEREKA mengangkat batu itu…” Batu itu tidak diangkat seorang diri, tapi bersama-sama.
3. Yohanes 11 ayat 43: “Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!””, mujizat ini adalah bagian Tuhan. Kita harus memahami mana yang jadi bagian Tuhan dan bagian kita dalam menikmati mujizat Tuhan.
4. Yohanes 11 ayat 44: Lazarus yang sudah bangkit keluar dengan masih mengenakan kain peluh, dan Ia meminta kita membuka kain-kain itu. Ini adalah bagian setiap kita, membuka kain dipandang sebagai persoalan yang kecil dan tidak signifikan. Disini kita diajarkan setia pada perkara kecil dan tekun atas apa yang Tuhan telah firmankan, seperti yang dikatakan di Lukas 16: 10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Jangan kita merasa sombong dan tidak mau setia dalam perkara-perkara yang sederhana.
5. Poin yang terakhir adalah, pada Yohanes 11 ayat 40 “..Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Kepercayaan yang sesungguhnya adalah mempercayakan seluruh hidup kita pada Tuhan. Dia Allah penguasa di langit, di bumi, dan di bawah bumi, karena itu serahkanlah kehidupan dan masalah kita di bawah kaki Kristus. Kita berhenti menanggung segala masalah sendirian dan membiarkan Tuhan bekerja lewat iman kita kepada-Nya.

Janganlah takut menghadapi titik kematian dalam pertandingan hidup kita, karena Tuhan Yesus dan mujizatNya telah menanti untuk menyatakan kemuliaan Allah lewat iman kita. Be courageous and faithful!

SELECT SERMON

Musim dalam Hidup Ini

25 October 2015 | Pdt. Suhana Setyawan
SELECT SERMON

Hari Kenaikan Yesus Kristus

5 May 2016 | Pdt. Agustinus Puspawiguna
SELECT SERMON

Banyak yang dipanggil sedikit yang dipilih

13 August 2017 | Pdt. Agustinus Puspawiguna