SERMONS
Pemulihan Hati Anak

ON 10 APRIL 2016, BY PDT. AGUSTINUS PUSPAWIGUNA

Tahun ini adalah tahun pembebasan seutuhnya, untuk menerima ini kita perlu mengambil langkah. Bagi setiap kita yang pernah mengikuti HMC (Healing Movement Camp) pasti mengenal sesi Pemulihan Hati Bapa. Ternyata bukan hanya gambaran kita tentang Bapa yang perlu dipulihkan, tapi seperti sisi mata uang pemulihan Hati Bapa perlu dibarengi dengan pemulihan hati kita sebagai seorang anak.

Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah. (Maleakhi 4: 5-6)

Seperti yang kita baca di ayat diatas, tidak hanya hati bapa yang kembali pada anaknya tetapi juga hati anak kepada bapanya. Ada kalanya kita berperan sebagai bapa (sebagai pemimpin dalam suatu lingkungan) dan di lain waktu kita juga memiliki posisi sebagai anak (memiliki otoritas di atas kita). Untuk jadi anak yang baik, kita harus memiliki hati seperti seorang anak. Tuhan pernah mengatakan bahwa kita harus menjadi seperti anak kecil, anak kecil yang dimaksud dalam alkitab sebenarnya adalah anak usia sekolah yang sudah mulai mengerti dan beranjak dewasa.

Ada 4 poin yang kita perlu untuk memiliki hati anak:

1. Maukah kita sungguh-sungguh menjadi anak?
Misalnya saja di dalam gereja, maukah kita sungguh-sungguh menjadi anak-anak rohani? Tidak hanya kita datang dan menjadi jemaat, tapi kita harus berani mengambil posisi anak. Menjadi anak berarti kita sungguh-sungguh setia tertanam di gereja yang Tuhan tentukan, karena tidak ada anak yang meninggalkan bapanya sendiri ataupun membuang bapanya dan mencari yang lain dengan mudah. Seorang anak juga tinggal di dalam rumah, tidak berada di luar dari komunitas. Apabila kita dalam satu keluarga tapi tinggal di luar rumah, pasti kita tidak akan merasa nyaman.

Menjadi anak juga berarti memiliki kerendahan hati. Seperti anak kecil yang belum punya banyak peran dan masih sangat menyegani orang tuanya, dalam gereja kita sebagai anak rohani juga perlu datang dengan rendah hati dan harus memiliki penundukkan diri. Tunduk disini berarti berani untuk menuruti apa yang diarahkan oleh otoritas, terlepas dari seperti apa background orang yang memimpin kita. Bahkan pada saat kita merasa otoritas kita lebih tidak mampu daripada kita.

2. Anak yang baik mau menerima didikan dari orang tuanya.
Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. (2 Timotius 3:10)

Menerima didikan seringkali terasa tidak enak, karena dalam didikan ada teguran, nasehat, peringatan, bahkan hukuman. Walaupun tidak enak, didikan selalu mendatangkan kebaikan. Anak kecil cocok terima didikan karena belum ada konsep-konsep yang begitu keras dipegang. Maka dari itu kita tidak dapat menerima didikan kalau belum menempatkan diri sebagai anak. Kita berhenti bertumbuh saat kita sudah merasa bisa dan puas dengan diri kita, sehingga tidak mau menerima didikan yang lebih lanjut.

3. Anak yang membuat orang tuanya tenang dan nyaman.
Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu. Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu; (Filipi 2:19-20)

Bila kita punya hati seorang anak, kita akan:
1. Menceritakan kepada orang tua kita apa yang kita lakukan, baik itu kepada orang tua jasmani ataupun rohani.
2. Memberi waktu untuk bertemu dan membangun hubungan.
3. Berusaha mengerti hati bapanya, meskipun memiliki pendapat yang berlawanan.

Siapa yang tidak setia dengan visi orang lain, juga tidak akan setia dengan visinya sendiri. Yang dimaksudkan disini adalah, sebagai anak kita tidak membawa agenda kita sendiri. Bila kita memiliki hati anak, kita tidak akan memberontak.

Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka. (Maleakhi 4:1)

Gegabah dan berbuat fasik sesungguhnya berarti arogan dan memberontak. Hati anak jauh dari kedua hal tersebut.

4. Anak bersikap jujur kepada orang tuanya.
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

Faktor utama yang membuat kita tidak bisa jujur adalah rasa sombong dalam diri kita. Menghormati juga mengandung kejujuran didalamnya, berintegritas dalam setiap perkataan yang kita katakan kepada orang tua dan otoritas kita.

Mengapa seringkali kita tidak bisa jadi bapa yang baik? Hal itu karena kita tidak pernah sungguh-sungguh belajar untuk menjadi anak yang baik. Apabila kita menjadi anak yang baik, maka kita mengerti bagaimana menempatkan diri kita sebagai bapa yang baik. Ada satu hal lagi yang penting kita ketahui. Kita sebagai anak sering menuntut bapa untuk lebih proaktif dalam hubungan, tetapi justru harusnya kita sebagai anak yang lebih sering datang mendekat kepada bapanya. Kita dapat melihat contoh dari hubungan Musa dan Yosua, serta Elia dan Elisa.

Apabila kita sungguh-sungguh memiliki hati seorang anak, bapa pasti akan memberikan warisan yang jauh lebih besar daripada apa yang bisa kita hasilkan.

SELECT SERMON

Belajar dari 7 Jemaat

21 May 2017 | Pdp. Andy Auric
SELECT SERMON

Kemana Gereja ini Harus Melangkah

11 September 2016 | Pdt. Agustinus Puspawiguna
SELECT SERMON

Menerima Janji Allah

16 April 2017 | Ps. Harry Sudarma