SERMONS
Penyembahan yang Sejati

ON 28 MAY 2017, BY HARRY YUSUF

Lukas 7: 44 (TB) Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya”

Lukas 7:36-50 menceritakan kisah Yesus diurapi oleh perempuan berdosa. Saat itu, Yesus diundang untuk makan bersama oleh orang Farisi, dan duduk makan di rumahnya. Seorang perempuan berdosa mengetahui keberadaan Yesus dan datang ke rumah orang Farisi tersebut sambil membawa bul-buli pualam berisi minyak wangi. Perempuan itu membasuh kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Sesuai adat yang berlaku di masa itu, seorang yang bertamu akan disediakan bejana pembasuhan oleh tuan rumah. Tamu yang sangat terhormat akan dibasuh kakinya oleh tuan rumah. Bila tamu tersebut orang yang berstatus sama dengan tuan rumah, tamu tersebut akan dibasuh kakinya oleh pembantu di rumah tersebut. Tetapi bila tamu yang datang berstatus lebih rendah, maka tamu tersebut harus membasuh kakinya sendiri.

Setiap kita sudah mengizinkan Tuhan Yesus masuk ke dalam hidup kita. Seperti yang Tuhan sampaikan pada Simon di ayat 44, kita harus menyelidiki lebih dalam: apakah kita membasuh kaki Yesus sebagai tamu terhormat yang hadir dalam hidup kita? Ketika kita mengundang Yesus masuk ke hidup kita tetapi tidak melayani-Nya, maka kita tidak menganggap Yesus berharga. Pembasuhan yang dilakukan oleh sang perempuan berdosa merupakan suatu bentuk penghargaan dan rasa syukur akan hadirnya Yesus di tempat itu. Demikian dengan penyembahan yang kita naikkan pada Yesus, seharusnya juga merupakan ungkapan penghargaan dan syukur kita akan kehadiran Yesus dalam hidup Namun, suatu penghargaan tidak akan bisa kita berikan kepada orang yang tidak kita hargai, dan kita tidak akan bisa menghargai seseorang apabila kita tidak mengenalnya.

Salah satu definisi dari worship adalah to kiss. Hal ini berarti, dalam penyembahan harus ada satu level kedekatan yang sangat dekat, karena tidak mungkin kita mengecup orang yang tidak dekat dengan kita. Saat menerima Yesus sebagai Tuhan dalam hidup kita, ada satu relasi yang terbentuk dan kemelekatan yang dalam antara kita dengan Yesus. Dengan demikian, akan terjalin hubungan yang intim dengan Yesus dan akan ada suatu penyembahan yang datang dari hati kita. Saat ini yang harus kita pertanyakan adalah, siapakah Tuhan dalam hidup kita? Apakah kita sudah benar-benar menerima Yesus sebagai Tuhan atas hidup kita, atau justru “menuhankan” hal lain dalam hidup kita? Pada siapa waktu, perhatian, dan usaha kita tercurahkan, itulah Ilah di hidup kita.

Jika kita menyadari ada Tuhan lain dalam hidup kita selain Yesus, minta ampun dan letakkan semua itu di mezbah Tuhan. Letakkan segala hal yang mencuri cinta kita pada Tuhan, dan jangan pernah ambil kembali. Dari kerelaan tersebut, akan ada penyembahan yang sesungguhnya, yang benar-benar menyadari Yesus sebagai anugerah terindah dalam hidup ini.

Penyembahan sejati tidak pernah berhenti mengalir. Penyembahan yang sesungguhnya datang dari hati yang mampu menilai betapa berharganya Tuhan Yesus dalam hidup kita.

SELECT SERMON

Musim dalam Hidup Ini

25 October 2015 | Pdt. Suhana Setyawan
SELECT SERMON

Menjaga Hati Setiap Hari

3 April 2016 | Pdt. Fendi Tantono
SELECT SERMON

Jadilah Berkat Di Mana pun Anda Berada

7 June 2015 | Pdt. Yosep Moro Wijaya