SERMONS
Perjumpaan Pribadi

ON 6 AUGUST 2017, BY HARRY YUSUF

Lukas 5:5-8 (TB) Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”

Mengutip kata Petrus dalam cerita di atas, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” ternyata hal seperti itulah yang muncul dalam benak setiap orang berdosa. Saat melakukan dosa, kebanyakan dari kita sebenarnya sadar bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang salah. Hati nurani yang Tuhan ciptakan bagi setiap manusia lah yang berfungsi untuk memberikan “sinyal-sinyal” pada kita bahwa kita sedang berbuat hal yang tidak benar. Sinyal-sinyal tersebut pada umumnya berupa jantung yang berdebar dan perasaan gugup ketika melakukan dosa. Namun, semakin sering kita melakukan kejahatan, semakin juga kita mengabaikan sinyal-sinyal tersebut dan akhirnya mematikan hati nurani.

Manusia yang nuraninya sudah mati dan terus berbuat dosa, akan sampai pada satu titik di mana kesadaran akan dosanya menguat dan mengintimidasi setiap dirinya. Pada kondisi tersebut, munculah kecenderungan untuk “mengusir” Tuhan dari kehidupan kita karena merasa tidak layak bagi-Nya. Dosa mengambil kepribadian manusia. Ketika sesorang berbuat dosa, dosa tersebut melekat pada dirinya. Orang yang berbuat dosa secara otomatis akan dihindari oleh orang-orang di sekitarnya karena dalam penghambaan dosa, karakter yang baik dari orang tersebut akan terselubung oleh dosanya sehingga dia dibenci oleh orang-orang di sekitarnya, padahal seharusnya yang dibenci adalah dosanya. Karena itulah, dosa mengambil kepribadian manusia: penghakiman di mata manusia terjadi atas keseluruhan eksistensi orang tersebut, bukan hanya dosanya.

Dalam kondisi inilah roh agamawi mengisi orang berdosa. Roh agamawi menolak manusia berdosa dan meninggikan manusia yang kudus. Orang berdosa merasa tidak punya harapan karena diasingkan oleh roh agamawi yang bekerja di dalam dia, dimanipulasi oleh pikiran yang membuat dia tidak mampu bangkit dari kejatuhannya. Karena itulah, agama tidak bisa menyelamatkan manusia: agama akan membuat manusia merasa tidak layak dan akhirnya tidak mampu mendapati kebenaran. Kekristenan bukan agama. Kekristenan adalah tentang bagaimana Tuhan yang Maha Kuasa mau turun ke dunia untuk mensucikan setiap kita dan membebaskan kita dari belenggu dosa. Yang bisa membawa kita keluar dari jurang dosa bukanlah agama, namun hanyalah Tuhan Yesus, jurus’lamat dan penebus kita yang hidup.

Kisah Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta dalam Markus 1:40 bisa menjadi suatu ilustrasi bagaimana Tuhan membebaskan kita dari dosa. Ketika seorang kusta (pendosa) datang kepada Tuhan dan meminta kesembuhan (kelepasan dari dosa) hati Tuhan tergerak oleh belas kasihan. Tuhan mengulurkan tangan-Nya pada si penderita kusta, suatu perlakuan yang sudah lama sekali tidak pernah diterima oleh seorang penderita kusta yang diasingkan dari masyarakat, sesuatu yang sangat dia rindukan. Sangat manis membayangkan bagaimana Tuhan memuaskan kerinduan setiap umat-Nya yang mau berbalik dari dosa dan memohon pengampunan, bagaimana penerimaan yang sudah lama kita rindukan, perasaan dianggap layak dan dianggap sebagai anak yang baik, mau Tuhan berikan kepada setiap pendosa. Kembali ke kisah si orang kusta, Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit orang kusta itu dan dia menjadi tahir. Sama seperti ketika Tuhan menjamah kita, kita beroleh kelepasan dan keselamatan yang dari Tuhan.

Perjumpaan pribadi dengan Kristuslah yang mampu mengubahkan hati kita dan melepaskan kita dari jerat dosa. Seperti penderita kusta yang menjadi tahir, dan Simon yang awalnya memanggil Yesus dengan sebutan “Guru” (ayat 5) tapi kemudian memanggil-Nya “Tuhan” setelah mengalami mujizat (ayat 8), demikianlah perjumpaan pribadi dengan Yesus dapat mengubahkan hidup kita. Pertobatan dan pemulihan yang sejati hanya dapat kita peroleh di dalam Yesus Tuhan.

Perjumpaan pribadi dengan Yesus akan meruntuhkan kuasa dosa di hidup kita

SELECT SERMON

Uraian Kotbah Pdt. Ir Niko Njotorahardjo

12 July 2015 | Pdt. Agustinus Puspawiguna
SELECT SERMON

Jangan Kuatir

19 March 2017 | Ps. Noel Risakotta
SELECT SERMON

Menjelang Kedatangan Tuhan

6 December 2015 | Pdp. Gustav