SERMONS
Segala Sesuatu Sia-sia

ON 30 APRIL 2017, BY EZRA ELIAN YONATAN

Pengkhotbah 1:3 (TB) Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?

Pengkhotbah 1 dimulai dengan judul “Segala Sesuatu Sia-sia”. Mungkin istilah ini dirasa wajar ketika dinyatakan oleh orang yang merasa hidupnya sudah gagal, tetapi apakah sosok pengkhotbah merupakan orang yang gagal dalam hidup?

Dalam ayat 1 dinyatakan, sosok pengkhotbah adalah Raja Salomo, anak dari Raja Daud. Raja Salomo tercatat di alkitab sebagai raja yang memiliki hikmat dan harta kekayaan melebihi siapapun yang pernah ada dan akan ada (1 Raja-raja 3:12). Maka, mengapa pernyataan “Segala Sesuatu Sia-sia” muncul dari seorang dengan hidup yang sangat berkecukupan? Pengkhotbah 1:3-8 berbicara tentang kesia-siaan jerih lelah manusia. Pengkhotbah menyadarkan kita untuk merenungkan bahwa semua yang kita kejar dalam hidup pada akhirnya adalah sia-sia. Bila kita hidup untuk mengejar uang, karir, keluarga, dan berkat dunia lainnya, pada akhirnya semua itu akan berlalu sampai Bumi pun berlalu. Jika semuanya sia-sia, pertanyaan yang muncul adalah untuk apakah kita hidup?

Manusia diberikan kesempatan untuk hidup di Bumi hanya sekali. Setelah menjalani kehidupan di Bumi, manusia akan hidup dalam kekekalan. Bagaimana bila dibandingkan, kehidupan selama 70 tahun di Bumi dengan kehidupan dalam kekekalan? Pastinya dapat langsung dipahami betapa sia-sianya jerih lelah manusia selama di Bumi. Itulah sebabnya, hidup di Bumi harus dijalani untuk memahami mengenal dan memahami Bapa, sang empunya kekekalan, supaya saat kita berpulang padaNya kita sudah menyiapkan yang terbaik bagiNya. Mengapa kita harus mempersiapkan yang terbaik bagi Tuhan? Pernahkah kita menyadari apa yang telah Tuhan perbuat untuk setiap kita melalui karya keselamatan Kristus di kayu salib?

Allah Bapa mengorbankan anakNya yang tunggal, Tuhan kita Yesus Kristus untuk lahir di dunia, menderita, sengsara, dan wafat di kayu salib, kemudian bangkit dan naik ke sorga, yang kemudian mencurahkan rohNya untuk menyertai setiap kita. Kelahiran, sengsara, dan wafat Kristus menjadi bukti nyata kasih Bapa pada manusia yang mau menjadi daging dan korban keselamatan atas dosa kita. Kemudian kebangkitanNya menjadi bukti kuasaNya, bukti bahwa Dia menang atas maut dan menjadi yang sulung bangkit dari antara orang mati. Atas kuasa kebangkitanNya pun, iman kita menjadi tidak sia-sia, karena telah ternyatakan bahwa kita menyembah Tuhan Allah yang hidup. Setelah bangkit, Yesus naik ke sorga untuk menyiapkan tempat bagi kita di rumah Bapa, tetapi Dia tidak melupakan dan meninggalkan kita sendirian. Dia mencurahkan rohNya sebagai penolong yang setia menyertai kita sampai pada kesudahannya. Itulah makna karya keselamatan Kristus bagi setiap orang percaya.

Setelah semua yang sudah Tuhan lakukan bagi kita, bagaimanakah respon kita? Apakah kita masih menyia-nyiakan Kasih Karunia Tuhan dan tetap hidup seturut kehendak kita sendiri?

Hidup yang seturut kehendak Bapa, sudah dipraktikan oleh Tuhan Yesus selama Dia hidup di Bumi. Kita sebagai orang percaya, sekiranya bisa meneladani Yesus yang selalu hidup dalam kebenaran dan giat mewartakan Firman Allah. Selama hidupNya, Tuhan Yesus seringkali menegaskan bahwa apa yang Dia lakukan bukan berasal daripadaNya, melainkan dari Bapa yang mengutusNya (Yohanes 6:38) dan demikianlah seharusnya hidup kita, hidup untuk melakukan kehendak Bapa dan bukan kehendak kita.

Hidup seturut kehendakNya berarti hidup dalam rancanganNya. Rancangan adalah rencana yang sudah disusun, dirinci dengan amat baik, dan siap untuk dieksekusi. Seperti yang tertulis dalam Yeremia 29:11, rancangan yang Tuhan siapkan bagi kita bukanlah rancangan kecelakaan, rancangan damai sejahteran untuk memberikan hari depan yang penuh harapan bagi setiap kita. Dengan demikian, apakah kita patut meragukan keputusan untuk hidup dalam rancangan Tuhan?

Memutuskan hidup dalam rancangan Tuhan secara sederhana dapat kita lakukan dengan menyatakan diri pada Tuhan untuk menyerahkan hidup kita padaNya, kemudian senantiasa berdoa dan bertanya pada Tuhan untuk pengambilan keputusan apapun dalam hidup. Yang perlu kita sadari adalah, rancangan Tuhan merupakan damai sejahtera bagi Roh kita, namun kecelakaan bagi kedagingan kita. Seperti penganiayaan yang dialami oleh jemaat mula-mula (Kisah Para Rasul 8:1b), ketika kita memutuskan hidup untuk mewartakan kebenaran pasti kita akan mengalami “penganiayaan” atau proses berupa masalah dalam hidup kita. Proses yang kita alami akan menyakitkan dan tidak mengenakkan untuk kedagingan kita, tetapi seperti halnya pelari maraton, teruslah berlari sampai akhir dan selesaikan pertandingan hingga garis finish. Dengan demikian kita bisa beroleh kehidupan yang tidak sia-sia.

Pribadi yang dapat dilihat sebagai contoh sosok yang hidup seturut kehendak Bapa adalah pak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Pak Ahok mengalami berbagai pencobaan dan proses yang hampir serupa dengan apa yang dialami Tuhan Yesus selama di Bumi. Pak Ahok masuk ke dunia perpolitikan dengan tetap mewartakan kebenaran melalui sikapnya yang anti korupsi dan tanpa kompromi terhadap dosa. Namun, orang-orang di sekitarnya tidak menyukainya dan berusaha menjatuhkannya, persis seperti apa yang dialami Tuhan Yesus karena mewartakan Kerajaan Sorga. Tuhan Yesus dituduh telah menistakan hukum Taurat dengan melakukan mukjizat pada hari Sabat, sedangkan pak Ahok pun dituduh menistakan agama karena suatu insiden yang dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk menjatuhkannya. Sama seperti Tuhan Yesus yang “kalah voting” dengan Barabas (orang yang sungguh terbukti bersalah) dalam pemilihan pembebasan tawanan, demikian juga pak Ahok mengalami kekalahan dalam Pilkada DKI Jakarta. Tuhan Yesus kemudian mati disalibkan, dan pak Ahok pun “mati” dalam perpolitikan. Namun Tuhan Yesus bangkit pada hari ke-tiga dan menyatakan kuasaNya atas maut, maka dengan iman kita dapat menyatakan bahwa pak Ahok pun akan “dibangkitkan” dengan cara Tuhan yang dahsyat dan ajaib. Selama hidup seturut kehendak Bapa kehidupan kita akan melalui lika-liku yang terasa sulit, tetapi keyakinan atas rancanganNya yang sempurna dan kehadiran Roh Kudus dalam setiap langkah hidup kita pasti akan memampukan kita melewatinya.

Hiduplah seturut kehendak Bapa dan dalam rancangan Tuhan, maka hidup yang kita jalani tidak akan menjadi kehidupan yang sia-sia

SELECT SERMON

Jangan Kuatir

19 March 2017 | Ps. Noel Risakotta
SELECT SERMON

Jagalah Hatimu

19 July 2015 | Pdt. Harry Sudarsono
SELECT SERMON

Hari Kenaikan Yesus Kristus

5 May 2016 | Pdt. Agustinus Puspawiguna